NASIONAL

Malam Ini,Pasien Sakit Jiwa Doa untuk Gus Dur

Tak hanya pasien rumah sakit jiwa acara juga digelar oleh seniman.

ddd
Senin, 8 Februari 2010, 11:25 Amril Amarullah
Petugas Rumah Sakit Jiwa Solo membersihkan ruang pasien
Petugas Rumah Sakit Jiwa Solo membersihkan ruang pasien (Antara/ Akbar Nugroho Gumay)

VIVAnews -- Puluhan pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ), Prof dr Soeroyo Magelang, malam ini, Senin 8 Februari 2010 ikut ambil bagian dalam peringatan 40 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Sebanyak 35 pasien sakit kejiwaan tersebut akan mementaskan jathilan untuk berpartisipaso dalam acara. "Kuncung Semar 40 hari Gus Dur" yang akan digelar Taman Budaya Jawa Tengah di Solo, Senin, 8 Februari 2010, malam ini.

Tak hanya pasien rumah sakit jiwa yang ikut berpartisipasi dalam acara yang digelar oleh seniman Surakarta. Namun juga merangkul beragam kesenian dengan latar budaya yang berbeda. Hal ini dimaksudkan sebagai simbolisasi pluralisme sebagaimana apa yang telah diperjuangkan oleh Gus Dur.

"Merangkul pasien rumah sakit jiwa tidak akan menodai nama Gus Dur. Tetapi lebih kepada niatan baik. Lagipula pentas jathilan ini juga menjadi terapi bagi mereka. Justru ini menjadi niatan yang mulia. Karena menggambarkan bagaimana keragaman budaya, latar belakang dalam satu kebersamaan," tutur salah satu panitia, Cempluk Lestari kepada VIVAnews di Solo, Minggu 7 Februari 2010.

Mengenai acara ini, dia menyebutkan akan diikuti sekitar 300 seniman dari berbagai macam latar belakang, suku dan ras. Pentas keberagaman ini lebih menekankan pada kebersamaan dalam pluralitas.

"Akan ada seniman santri dan tarling Cirebon, dalang China, reog, barongsai, kelompok musik perkusi, ketoprak, seni tradisi dari Padang, komunitas wayang suket," tutur Cempluk.

Acara ini diberi nama Kuncung Semar adalah sebagai sebuah penggambaran akan sosok Gus Dur. Dalam tradisi Jawa, Semar adalah salah satu sosok dewa yang menjelma menjadi rakyat jelata. Semar adalah tokoh wayang adalah sebagai tokoh pamong, pengayom dan pamomong.

"Kuncung (sejumput rambut di atas dahi) yang biasanya ada pada orangtua yang sudah rontok rambutnya dan ada pada anak yang masih polos. Kuncung adalah simbol kematangan dan kebijaksanaan sekaligus kepolosan dan keliaran," urai Cempluk. Sebab itu, tambah Campluk, tema Kuncung Semar cocok untuk sosok Gus Dur.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com