NASIONAL

6 Polisi Dibunuh, Perampok Mengaku Eks-TNI

Dia mengaku bisa menembak karena pernah menjadi tentara.

ddd
Jum'at, 23 April 2010, 13:58 Ismoko Widjaya, Sandy Adam Mahaputra
Perampok dengan senjata api
Perampok dengan senjata api (ANTARA/ Arief Priyono)

VIVAnews - Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Pribahasa ini yang tepat bagi Rahman alias Robin Winaldo Saragih alias Ulianto pelaku perampokan sadis yang akhirnya dibekuk setelah berulang kali kabur.

Robin ditangkap di rumahnya, Ngawi pada Rabu 21 April 2010. Dia dicokok setelah belasan kali merampok di Sumatera Utara, Jambi, dan Ngawi. Dalam melakukan aksinya, Robin tak segan-segan menembak mati korbannya.

"Ada 3 warga sipil yang dia bunuh, yakni pegawai perusahaan swasta di Jambi, bos kelapa sawit dan satpam di Medan. Selain itu dia membunuh 6 polisi di lokasi saat melakukan aksi," kata Wakil Direktur I Keamanan Transnasional Bareskrim Mabes Polri Komisaris Besar Iriawan, saat dihubungi wartawan, Jumat 23 April 2010.

Iriawan menjelaskan, sejak 2005 pelaku melakukan tindak pencurian dan kekerasan. Seorang anggota Polri berpangkat Aiptu meninggal dunia jadi korban saat melakukan pengawalan uang perusahaan kelapa sawit di Sumatera Utara.

Kemudian pada September 2009, lanjut Iriawan, Robin pindah ke Garut. Dia menikahi Elsa. Sempat pindah ke Bandung selama satu bulan, Robin kembali lagi ke Garut pada awal Februari 2010.

Robin kembali beraksi, saat pada 4 Februari dia didatangi temannya  dan diajak mencuri lagi. Pada 8 Februari, Robin yang hendak melakukan aksinya bersinggungan dengan Briptu Wahyu di jalan. "Kemudian terjadilah keributan kecil," jelasnya.

Keributan itu tidak selesai di tempat. Setelah ribut, Rahman diam-diam membuntuti Wahyu sampai ke lapangan bola. "Saat jalan sepi, Briptu Wahyu ditembak pelaku," jelasnya.

Dari tangan pelaku, polisi menyita senjata AK 47, M16, SS1, Revolver buatan AS, pistol SNW, peluru 18 butir. Senjata itu diketahui adalah rampasan pelaku dari anggota polisi yang pernah dibunuhnya.

"Dia mengaku bisa menembak karena pernah menjadi tentara namun dipecat. Tapi kita akan cek kebenarannya ke Kodam Batalyon Aceh," tegas Iriawan yang tidak langsung percaya Robin adalah desersi.

Saat dilakukan penangkapan di rumahnya, Robin tidak mampu melawan karena senjata api yang dimiliki tak sempat diambil dari dalam lemari.

"Dia memang tergolong perampok paling berani, bahkan saat merampok SPBU Semarang, Ngawi, pelaku tetap tinggal di Ngawi dan tidak melarikan diri ke luar kota," ucapnya.

Selain itu, pelaku kerap kali merampok menggunakan baju seragam polisi yang dirampas saat membunuh perwira polisi. "Kami masih memburu 7 orang komplotan lainnya yang masih buron," tutup Iriawan. (hs)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
ojan
21/05/2010
apa tuh Kodam Batalyon aceh,... BODOH KALEE,.. aku tentara diaceh palsu berita ini yah???????
Balas   • Laporkan
adrian
20/05/2010
beritanya siluman masa tanggal kejadian lebih awal dr tanggal muat berita????? payah
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com