NASIONAL

Mabes Polri Didemo Cara Kerja Densus 88

Sekitar 150 polisi lengkap dengan helm berjaga-jaga mengelilingi para pengunjuk rasa.

ddd
Jum'at, 11 Juni 2010, 16:24 Ismoko Widjaya, Eko Huda S
Tujuh Terduga Teroris Ditangkap di Pasar Minggu
Tujuh Terduga Teroris Ditangkap di Pasar Minggu (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews - Ratusan orang yang tergabung dalam Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) dan Forum Umat Islam menggelar unjuk rasa di depan Markas Besar Kepolisian.

Massa mengecam cara Detasemen Khusus 88 Anti-Teror dalam menangkap orang-orang yang diduga sebagai teroris. Massa membentangkan spanduk dan poster di depan Markas Besar Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat, 11 Juni 2010.

Mereka menganggap penembakan, penangkapan dan penahanan yang dilakukan oleh Densus 88 dan Crisis Respons Team (CRT) adalah rekayasa. "Penanganan terorisme adalah pesanan asing," kata salah satu orator dalam aksi itu.

Dalam aksi ini, para pengunjuk rasa membawa berbagai atribut, seperti sorban, bendera, poster, dan berbagai spanduk. Tulisan-tulisan yang dibentangkan antara lain 'Bersihkan Polri Dari Agen Asing', 'Bebaskan Semua Anggota JAT Yang Anda Tahan Dengan Paksa', 'Tolak Rekayasa Terorisme', dan 'Polri Jangan Jadi Agen AS'.

Aksi ini mendapat penjagaan yang cukup ketat aparat keamanan. Sekitar 150 anggota polisi lengkap dengan helm berjaga-jaga mengelilingi para pengunjuk rasa. Sementara itu, tampak tameng polisi dipersiapkan di belakang barisan polisi.

Dalam orasinya, mereka juga menuntut agar aktivis JAT yang ditangkap beberapa waktu lalu dibebaskan. Mereka menilai anggota JAT yang ditangkap itu bukanlah anggota teroris.

Beberapa waktu yang lalu, Densus 88 menggerebek sekretariat JAT Jakarta di Pasar Minggu. Dalam penggerebekan itu ditangkap beberapa aktivis JAT, termasuk ketua JAT Jakarta Haris Amir Falah. Mereka dituduh terlibat jaringan teroris Aceh. Polri juga sempat menutup sekretariat itu. (mt)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
densus watch
22/06/2010
kita sudah tahu bahwa pembentukan densus adalah inisatif dan dibiayai oleh australia, yang menganggap sebagai deputi sherif negara teroris AS di Asia. bahkan pun pembentukan kampus intelijen sampai sekolah anti teroris di Semranag, sepenuhnya dibiayai asi
Balas   • Laporkan
abu gosok
12/06/2010
ya.. benar ada rekayasa....krn di setiap penangkapan polisi menemukan berbagai alat bukti sah: bom, senjata api, rencana penyerangan, dan seruan jihad ala arab (asing).......hidup densus......!
Balas   • Laporkan
ACI
12/06/2010
Sudah saatnya bangsa indonesia harus kembali menjadi jati dirinya, tanpa bantuan asing pun sebenarnya kita ( BI ) mampu melawan krisis, apalagi ummat islam terbesar ada di negeri ini dan mereka penyumbang terbesar dana untuk membangun bangsa ini. Kemablil
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com