NASIONAL

Mengapa TKW Rentan Diperkosa di Arab

Rata-rata TKW yang bunuh majikannya di Arab adalah korban kekerasan dan pelecehan seksual.
Jum'at, 21 Oktober 2011
Oleh : Elin Yunita Kristanti
Demo dukung TKW

VIVAnews  --  Lima tenaga kerja perempuan asal Indonesia  di Arab Saudi kini mendekam di sel tahanan. Kondisi mereka kritis. Hukuman mati atau qhisas telah dijatuhkan, tinggal menunggu kapan eksekusi akan dilakukan.

Mereka didakwa dengan kasus pembunuhan. Di Arab – di mana nyawa dibayar dengan nyawa- satu-satunya cara untuk lolos, mereka harus mendapatkan maaf dari keluarga korban. Lalu membayar diyat atau ‘uang darah’.

Direktur Migrant Care, Anis Hidayah mengatakan, meski mereka menghilangkan nyawa orang lain, jangan lantas menyebut para TKW itu kriminal. Harus dilihat latar belakang mengapa mereka melakukannya. “Rata-rata melakukannya dalam kondisi terpaksa, untuk membela diri,” kata dia kepada VIVAnews.com. Selain menjadi korban kekerasan majikan, banyak di antara TKW menjadi korban pelecehan seksual sampai pemerkosaan.

Seperti Tuti Tursilawati misalnya. Ia menghilangkan nyawa majikan yang kerap memerkosanya. Saat lari, ia juga jadi korban kebiadaban sembilan laki-laki yang menggilirnya. Juga Darsem, TKW yang berhasil lolos dari algojo pancung karena membela diri dari ulah mesum majikannya.

Yang jadi pertanyaan, mengapa TKW pembantu rumah tangga di Arab rentan diperkosa?

Anis mengatakan, itu karena tidak adanya perlindungan hukum pada pembantu rumah tangga. “Makanya saya kira penting bagi Arab Saudi juga pemerintah untuk meratifikasi konvensi ILO 169 tentang pekerja domestik,” kata Anis.

Konvensi ini dikeluarkan organisasi buruh internasional karena melihat rentannya perlindungan hukum bagi pembantu rumah tangga.

Dalam konvensi itu, Anis menjelaskan, diwajibkan standar pendidikan, baik bagi buruh migran maupun domestik. ” Termasuk pendidikan paralegal, bagaimana pemahanan dan penyadaran tentang sistem hukum negara tempatan, risiko konsekuensi hukum jika mereka lakukan suatu tindakan,” kata dia.

Misalkan dalam kondisi terpaksa, di mana TKW terjepit, mereka bisa melakukan upaya yang bisa mengurangi risiko hukuman mati.

Anis mengungkapkan, berdasarkan sejumlah hasil penelitian, kerentanan di Arab Saudi sangat tinggi, terutama potensi pelecehan seksual. “Kerentanan disebabkan Arab sangat patriarki, sangat diskriminatif. Menyetir saja perempuan baru dibolehkan akhir-akhir ini. Ada jurang perbedaan Arab dalam memperlakukan perempuan,” kata dia.

Selain itu banyak batasan yang diberlakukan di Arab dibandingkan  negara lain. “ Tak ada akses publik, banyak larangan. TKW kita tak bisa ngapa-ngapain, nggak bisa keluar rumah,” kata dia. Bahkan ketika menjadi korban kekerasan, mereka tak tahu ke mana harus melapor.

Diungkapkan Anis, derita tak terperi dirasakan para TKW yang diperkosa dan terpaksa membunuh untuk membela diri. Selain ancaman mati, mereka juga mengalami trauma.

Duka juga dirasakan TKW yang hamil akibat pemerkosaan. "Kalau Hamis itu, di bandara kepulangan TKI yang bebas dari hukuman, ada yang bawa anak, banyak yang hamil," kata dia.

Menurut Anis, tak jarang TKW yang dihamili justru dikriminalisasi.  “Dipenjara dengan  tuduhan macam-macam – sihir, mencuri, selalu dipakai. Untuk itulah meski dinyatakan bersalah oleh pengadilan Arab. Masyarakat harus mendukung, mereka layak dibela.”

Secara terpisah, Wakil Ketua Umum Serikat Buruh Migran Indonesia, Ramses D. Aruan mengatakan, sebenarnya tak hanya di Arab. Di manapun persoalan pekerja domestik sulit diintervensi, diakses hukum.

“Meski di negara yang hukumnya bagus, acapkali kekerasan pekerja domestik gampang terjadi. Mereka rentan kekerasan," kata dia.

Sebagai solusinya, perlu diatur jam kerja, detail kontrak kerja yang jelas. "Kalau bisa saya setuju jangan tinggal di rumah majikan. Kalaupun tinggal serumah, kunci kamar dipegang sendiri." (eh)

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found