NASIONAL

Muhammadiyah Dukung Pilkada Lewat Legislatif

"Saya dengar untuk Pilbub saja membutuhkan Rp20 miliar rupiah."

ddd
Minggu, 19 Februari 2012, 18:06 Elin Yunita Kristanti, Tudji Martudji (Surabaya)
Din Syamsuddin
Din Syamsuddin (Joko Kristiono/Surabaya Post)

VIVAnews - Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin meminta proses pemilihan kepala daerah nantinya harus dilakukan dengan cara beradab, meninggalkan praktik mungkar memakai kekuatan uang. Sebab, politik uang berdampak munculnya biaya tinggi.

Disebutkan, proses demokrasi di Indonesia mulai tingkat bupati hingga presiden tidak lepas dari permainan politik uang. "Saya dengar untuk Pilbub saja membutuhkan Rp20 miliar rupiah, padahal gaji yang didapat dari negara selama 5 tahun tidak akan bisa menutup itu," kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin di Surabaya Minggu, 19 Februari 2012.

Din menambahkan, untuk sekali kampanye presiden biaya yang keluar sampai Rp20 miliar. Padahal, itu bisa terjadi lebih dari dua kali putaran. Kata Din, hal itu pemicu munculnya praktik korupsi, karena kandidat kemudian harus melunasi pengeluaran besar. "Itulah, kami mengimbau ke depan harus dilakukan dengan beradab. Jangan sampai ada praktik-praktik mungkar, menggunakan kekuatan uang," tambah dia.

Din mengatakan, meski tidak terlibat politik praktis, dia terus memberikan pandangan moral sebagai bentuk politik nilai. Di antaranya, mendorong proses pemilihan kepala daerah kembali melalui legislatif. "Yang kami lakukan sekarang diskusi di Muhammadiyah dalam rangka konsolidasi demokrasi dan revisi undang-undang. Kami tidak menolak demokrasi, dan tidak mungkin memutar jarum jam sejarah kembali ke zaman otoritarianisme. Tetapi demokrasi yang sebebas-bebasnya juga tidak baik," tegasnya.

Diuraikan dia, pemilihan langsung, selain membawa manfaat juga terdapat mudarat atau nilai negatif. Menurutnya, soliditas sosial terganggu tidak hanya di partai politik, tapi juga pada ormas-ormas yang kemudian merambat ke masyarakat. "Oleh karena itu perlu ada pemikiran ulang dan inilah saatnya," kata Din.(np)


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
wisnu2306
21/02/2012
Sebenarnya susah juga. Kalau Pemilukada dikembalikan ke DPRD,belum tentu mental anggota dewannya bagus. Kalau ke rakyat kelemahannya adalah ongkos politiknya yang terlalu mahal. Serba salah
Balas   • Laporkan
jarangdibelay
20/02/2012
inilah salah satu yg membuat indonesia susah maju yaitu pemimpin yg kepilih krn politik uang sm rakyat yg memilih pemimpinnya krn uang.
Balas   • Laporkan
masaik
19/02/2012
SETUJU......... biaya utk pilkada langsung sangat tinggi, baik oleh calonnya maupun oleh APBD/APBN. tidak sebanding dengan kualitas kepala daerah yang terpilih, setelah terpilih pasti balikin utang yang jadi prioritas.
Balas   • Laporkan
imanda_pramana
19/02/2012
saya sangat tidak setuju karena sebelum pilkada langsung praktik politik uang lebih parah terjadi di legislatifnya, secara angka kemungkinan sama saja jumlahnya....yang harus di benahi adalah pengawasan terhadap jalannya kampanye dan pencalonan
Balas   • Laporkan
wisnu2306 | 21/02/2012 | Laporkan
Pengawasan juga banyak praktek di KPUD2 yang meminta uang. Bahkan jumlahnya tidak sedikit. Jadi intinya,mental orang yang berkecimpung di dunia politik udah bobrok semua.
ady_soka
19/02/2012
Hem,.LHADALA ! Pilkada balik lagi ke DPRD ?Nanti ganti money politicnya jatuh ke angg.dewan.Kita setuju saja,tapi pelanggaran trhdap politik uang hrs benar2 ditindak tegas.Juga majunya calon2 independen hrs diberikan peluang dg syarat yg lbh ringan.
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru