NASIONAL

Kecewa Pada Istana, Indra Mengadu ke Mekkah

Jalan kaki Malang-Jakarta, untuk mengembalikan uang Rp25 juta pemberian Presiden.

ddd
Selasa, 20 Maret 2012, 14:39 Elin Yunita Kristanti, Oscar Ferri
Indra Azwan mengaku kecewa pada pihak Istana
Indra Azwan mengaku kecewa pada pihak Istana (VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)

VIVAnews -- Rambutnya yang panjang dan mulai memutih dikuncir. Badannya tidak tinggi, namun terbilang masih kekar untuk ukuran pria berusia 53 tahun.

Indra Azwan, nama pria itu. Ia seorang Malang, Aremania sejati. Sejak 18 Februari 2012 lalu, "Singo Edan" ini berjalan kaki menuju Istana Negara. Tujuannya satu, ingin bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menuntut keadilan ditegakkan terkait kasus kematian anaknya yang menjadi korban tabrak lari tahun 1993 silam.

Hari ini, Selasa 20 Maret 2012, sekitar pukul 12.30 WIB, Indra ditemui oleh Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana di Komplek Istana Negara. Denny mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sedang berada di Istana Bogor.

Dalam pertemuan dengan Denny, suami dari Betty itu mengembalikan uang tunai Rp25 juta. Uang itu yang diberikan oleh Kepala Rumah Tangga Istana, ketika Denny mempertemukannya dengan Presiden 10 Agustus tahun lalu.

Kala itu, Presiden memerintahkan Kapolri, Kemenkum dan HAM waktu itu Patrialis Akbar, Ketua Satgas Mafia Hukum Denny Indrayana, dan Sekretariat Negara Sudi Silalahi untuk menyelesaikan kasus kematian anak Indra. Sayang, berbulan-bulan berlalu, keadilan belum menjadi milik Indra. "Benar dugaan saya, Pak Presiden tidak tahu. Mereka-mereka itu takut menyampaikannya ke Presiden," kata Indra setengah emosi.

Dalam pertemuan dengan Denny, Indra menyampaikan uneg-unegnya. Sesuai janjinya, ia berjalan kaki dari Malang menuju Jakarta untuk mengembalikan uang pemberian dari pihak Istana. "Sesuai janji saya, berjalan kaki dari Malang untuk mengembalikan uang pemberian dari Kepala Rumah Tangga," ucap Indra yang mengenakan kupluk biru "Arema" dan kaos hitam "Arema Indonesia" ini di hadapan Denny.

Indra tak butuh materi. Ia hanya butuh keadilan. "Tak ada tawaran lain," kata pria tiga anak itu.

Denny, yang merupakan mantan aktivis dan pendiri Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada itu mengakui, proses penegakkan hukum di Indonesia, terutama terhadap kasus kematian anaknya Indra, begitu lambat. "Wajar memang jika beliau kecewa," kata Denny.

Terkait pengembalian uang tunai ini oleh Indra, Denny sebagai perwakilan Istana menerimanya. Denny menganggap, pengembalian uang itu sebagai simbolisasi keringat perjuangan Indra yang berjalan kaki dari Malang.

"Dengan berat hati kami menerima. Kami anggap ini sebagai simbol perjuangan beliau. Ini tidak ada kaitannya dengan kasus. Karena kasusnya tetap berjalan," kata Denny.

Usai pertemuan itu, Indra melangkah keluar menuju Sekretariat Negara. Indra mengaku sangat kecewa dengan pertemuan tadi.

"Waktu Agustus 2010 itu saya sudah dipertemukan dengan presiden lewat saran Denny, tapi cuma janji-janji saja, kasih duit doang. Tapi kasusnya tidak berjalan. Benar dugaan saya, Presiden tidak tahu. Para bawahannya cuma bersembunyi, takut, tidak mau menyampaikan ke Pak SBY. Saya amat sangat kecewa," katanya.

Setelah ini Pak Indra mau kemana? "Saya mau ke Mekkah. Di sana tempat mengadu terakhir bagi saya. Setelah di sini, monyet-monyet pada budek, manusia-manusianya buta dan budek, tak ada tempat lagi buat saya mengadu selain di Mekkah," kata pria yang sehari-hari di kampungnya membuka usaha warung kecil tersebut sambil berjalan menuju kantin di Sekneg untuk beristirahat dan makan siang. (eh)

 


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
kobebok
29/03/2012
Aremania (1987 army) ada di depan dan belakangmu bes Salam 1 Jiwa Arema !!!!!
Balas   • Laporkan
antok_laulo
22/03/2012
Rakyat menderita, minta keadilan!! Presiden Tutup mata, menyuruh bawahannya juga tak dimonitor secara langsung, ya kayak gini ini SBY!! giliran ada acaman curhat ke mana-mana. buat apa pilih pemimpin kalo tidak bisa memberi keadilan, kesejahteraan.
Balas   • Laporkan
jackspw
21/03/2012
Semangat terus pak indra.. allah ada dibelakang anda
Balas   • Laporkan
alterakunsinyo
21/03/2012
dimana KEADILAN untuk rakyat kecil itu? ga ada... Bapak2 Yth... tolong jangan mempersulit kaum lemah...
Balas   • Laporkan
edi-seno
21/03/2012
salut buat pak indra........sabar dan tabah pak....ndak usah ke mekah pak....kalo ke mekah siapa yang akan memimpin revolusi pak indra? pak indra yang pelopori ya...
Balas   • Laporkan
zulfi_jkt
21/03/2012
beginilah nasip rakyat kecil di negri yg bernama indonesia
Balas   • Laporkan
helpius
20/03/2012
dan Bukan pula Presiden ,melainkan Allah SWT.Jgn buat2 sensasi yg tak logis pak,Alangkah indahnya bila bpk undang anak Yatim kerumah bpk minimal 40 orang,lalu dikasih makan dan bagikan uang itu sedikit seorang kemudian berdoa kpd Allah
Balas   • Laporkan
helpius
20/03/2012
Pak Indra,bukan Istana tempat mengadu dan bukan pula Mekkah melainkan Allah pak,Saya salut bapak telah sampai ke Istana Negara dan diberitakan dimedia massa.Yg telah tiada takkan kembali,Syukurilah apa yang ada
Balas   • Laporkan
situmoranglakkiap
20/03/2012
Denny Indrayana si Mafia Hukum itu koq pura-pura dgn mengatakan simbol ??? Oalah... siapa yg ga kenal Denny tu sejak dari Satgas. Kalo berani tuh, sampaikan dgn segera kepada Presiden ttg kekesalannya Pak Indra Azwan. Berani ga???. Dasar.............
Balas   • Laporkan
biqccam
20/03/2012
ya alloh bukalah mata dan telinga penegak hukum INDONEIsia yg telah mati oleh kekuasan... aremania ambon selalu mundukung n mendoakan perjuangan BAPAK " SINGO EDAN"
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru