Kecewa Pada Istana, Indra Mengadu ke Mekkah
Jalan kaki Malang-Jakarta, untuk mengembalikan uang Rp25 juta pemberian Presiden.
Indra Azwan mengaku kecewa pada pihak Istana (VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)
VIVAnews -- Rambutnya yang panjang dan mulai memutih dikuncir. Badannya tidak tinggi, namun terbilang masih kekar untuk ukuran pria berusia 53 tahun.
Indra Azwan, nama pria itu. Ia seorang Malang, Aremania sejati. Sejak 18 Februari 2012 lalu, "Singo Edan" ini berjalan kaki menuju Istana Negara. Tujuannya satu, ingin bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menuntut keadilan ditegakkan terkait kasus kematian anaknya yang menjadi korban tabrak lari tahun 1993 silam.
Hari ini, Selasa 20 Maret 2012, sekitar pukul 12.30 WIB, Indra ditemui oleh Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana di Komplek Istana Negara. Denny mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sedang berada di Istana Bogor.
Dalam pertemuan dengan Denny, suami dari Betty itu mengembalikan uang tunai Rp25 juta. Uang itu yang diberikan oleh Kepala Rumah Tangga Istana, ketika Denny mempertemukannya dengan Presiden 10 Agustus tahun lalu.
Kala itu, Presiden memerintahkan Kapolri, Kemenkum dan HAM waktu itu Patrialis Akbar, Ketua Satgas Mafia Hukum Denny Indrayana, dan Sekretariat Negara Sudi Silalahi untuk menyelesaikan kasus kematian anak Indra. Sayang, berbulan-bulan berlalu, keadilan belum menjadi milik Indra. "Benar dugaan saya, Pak Presiden tidak tahu. Mereka-mereka itu takut menyampaikannya ke Presiden," kata Indra setengah emosi.
Dalam pertemuan dengan Denny, Indra menyampaikan uneg-unegnya. Sesuai janjinya, ia berjalan kaki dari Malang menuju Jakarta untuk mengembalikan uang pemberian dari pihak Istana. "Sesuai janji saya, berjalan kaki dari Malang untuk mengembalikan uang pemberian dari Kepala Rumah Tangga," ucap Indra yang mengenakan kupluk biru "Arema" dan kaos hitam "Arema Indonesia" ini di hadapan Denny.
Indra tak butuh materi. Ia hanya butuh keadilan. "Tak ada tawaran lain," kata pria tiga anak itu.
Denny, yang merupakan mantan aktivis dan pendiri Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada itu mengakui, proses penegakkan hukum di Indonesia, terutama terhadap kasus kematian anaknya Indra, begitu lambat. "Wajar memang jika beliau kecewa," kata Denny.
Terkait pengembalian uang tunai ini oleh Indra, Denny sebagai perwakilan Istana menerimanya. Denny menganggap, pengembalian uang itu sebagai simbolisasi keringat perjuangan Indra yang berjalan kaki dari Malang.
"Dengan berat hati kami menerima. Kami anggap ini sebagai simbol perjuangan beliau. Ini tidak ada kaitannya dengan kasus. Karena kasusnya tetap berjalan," kata Denny.
Usai pertemuan itu, Indra melangkah keluar menuju Sekretariat Negara. Indra mengaku sangat kecewa dengan pertemuan tadi.
"Waktu Agustus 2010 itu saya sudah dipertemukan dengan presiden lewat saran Denny, tapi cuma janji-janji saja, kasih duit doang. Tapi kasusnya tidak berjalan. Benar dugaan saya, Presiden tidak tahu. Para bawahannya cuma bersembunyi, takut, tidak mau menyampaikan ke Pak SBY. Saya amat sangat kecewa," katanya.
Setelah ini Pak Indra mau kemana? "Saya mau ke Mekkah. Di sana tempat mengadu terakhir bagi saya. Setelah di sini, monyet-monyet pada budek, manusia-manusianya buta dan budek, tak ada tempat lagi buat saya mengadu selain di Mekkah," kata pria yang sehari-hari di kampungnya membuka usaha warung kecil tersebut sambil berjalan menuju kantin di Sekneg untuk beristirahat dan makan siang. (eh)
- Info Momentum
- Efek Music Mozart Terhadap Kesehatan dan Kecerdasan
- Memori Otak Bisa Disimpan dalam Hardisk
- Misteri Kasus Frederick Valentich Diculik UFO
- Misteri Dibalik Uang Pecahan 20 Dollar Amerika
- Beredar Foto Seksi Mirip Sefty Sanustika Istri Fathanah
- Kisah Misteri Penyebab Kecelakaan di Gunung Lipan Kalimantan
- FOTO dan VIDEO : Darin Mumtazah Pelajar Cantik Simpanan Lutfi Hasan



