NASIONAL

"Si Mata Biru", Orang Aceh Keturunan Portugis

Meski dari kampung, perawakan mereka mirip orang Eropa. Nyaris punah saat tsunami.

ddd
Jum'at, 6 April 2012, 12:31 Elin Yunita Kristanti
Warga Aceh keturunan Portugis
Warga Aceh keturunan Portugis (Radio Nederland)

VIVAnews - Tsunami yang menggulung Aceh, 26 Desember 2004, merenggut lebih dari 100 ribu orang, hanya di Serambi Mekah. Juga nyaris membuat punah 'si Mata Biru', penduduk Aceh keturunan Portugis. Desa-desa mereka tersapu dahsyatnya gelombang gergasi.

Sudah lama Lamno, ibu kota Kecamatan Jaya, populer karena sebagian penduduknya tak seperti warga Aceh kebanyakan. Meski dari kampung, fisik mereka mirip orang Eropa: Mata biru kecokelatan, hidung mancung, kulit putih, rambut pirang, dan perawakan tinggi. Mereka kebanyakan adalah penduduk asli Daya.

Hingga kini, tak catatan pasti mengapa para peranakan Lamno ini sampai ada di kaki Gunung Geureute Aceh Jaya.

Seperti dimuat Radio Nederland, 5 April 2012, seorang warga Desa Ujong Muloh, Wahidin, yang juga punya darah Portugis, mengatakan jumlah para warga keturunan ini sudah sangat berkurang.

Yang ada saat ini, "merupakan keturunan ke delapan karena dari orangtua kami ada yang kelima dan enam. Di kabupaten Aceh Jaya dan khususnya Kecamatan Jaya, dan Kecamatan Indra Jaya di Kecamatan Baru, terdapat beberapa desa yang dihuni oleh penduduk keturunan Portugis yang pada abad ke-14 sampai ke-16 terdampar di daerah kerajaan Daya," cerita Wahidin.

Konon, di zaman dulu, masyarakat Kerajaan Daya menyelamatkan orang-orang Portugis dan menikahkannya dengan penduduk sekitar. Kala itu, kapal perang Portugis terdampar di perairan Lamno. "Desa-desa yang menjadi basis keturunan Portugis, yaitu desa Ujong Muloh, Kuala Daya, Gle Jong, Teumareum dan Lambeso, ini hampir semua wanita dan prianya berciri khas kulit putih, rambut pirang dan hidung mancung. Tambahan lagi, para prianya memiliki bulu tebal di tangan dan dada.

Meski berwajah kaukasia, budaya mereka kental Aceh dan Islam. "Di Lamno pengaruh Islam luar biasa. Tentara Portugis yang telah kawin dengan dengan masyarakat Lamno mengikuti agama Islam," kata Wahidin.

Itu versi pertama. Yang kedua, Portugis datang ke Aceh untuk menjajah pada tahun 1519 dan menikah dengan penduduk setempat.

Menurut catatan sejarah di pusat dokumen induk Aceh, Marco Polo dalam petualangan pelayaran keliling dunia tahun 1292-1295 pernah singgah di kerajaan Daya dan menulis buku tentang kebesaran kerajaan Daya berbaur dengan prajurit Portugis di Lamno.

Pemerintah Portugal sendiri telah menyalurkan bantuan pembangunan fasilitas kesehatan dan pendidikan di kawasan tersebut yang masih tersisa. (hp).



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
Hebat ya..ternyata aceh multikultural.. sesuai dengan namanya ACEH (ARAB,CHINA,HINDIA,EROPA)
Balas   • Laporkan
marcoyusuf
06/04/2012
wah! kacaau!! masih cilik aja udah ganteng banget. suruh migrasi ke jakarta aja, dijamin banyak yg demen hahaha
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com