NASIONAL

SBY: Berantas Pelaku Teror di Papua

"Saya ingin agar situasi sosial di Papua itu benar-benar bisa diatasi dan dipulihkan."

ddd
Selasa, 12 Juni 2012, 15:35 Aries Setiawan, Suryanta Bakti Susila
Penembakan di Kampus Universitas Cendrawasih, Jayapura, Papua
Penembakan di Kampus Universitas Cendrawasih, Jayapura, Papua (ANTARA/Alfian Rumagit)

VIVAnews - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta jajarannya bekerja serius memulihkan stabilitas sosial di Papua.

Menurutnya, meski insiden yang terjadi di Papua tidak sebesar di Timur Tengah, namun harus ditindaklanjuti dengan penegakan hukum yang tegas dan serius. Polisi dan TNI harus bertindak tegas terhadap para perusuh. Sebab, pelaku kekerasan di Papua itu bukan dalam rangka mengekspresikan pendapat.

Hal itu disampaikan Presiden SBY saat membuka rapat terbatas kabinet bidang hukum dan HAM di kantor presiden, Selasa 12 Juni 2012 sore ini.

Aksi kekerasan di Timur Tengah, kata SBY, hampir setiap hari terjadi serangan dan kekerasan yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa. "Meski di Papua tidak seperti itu tetapi tetap bagi kita tidak boleh membiarkannya," tegasnya.

SBY mengaku mendapat laporan berbagai aksi penembakan terhadap warga di Papua, dari Kapolri, Panglima TNI dan Kepala BIN di dalam pesawat kepresidenan ketika melakukan kunjungan kerja ke Ambon dan Bali.

"Dan pada pertemuan hari itu pula 10 Juni lalu saya telah instruksikan bahwa agar apa yang dilakukan jajaran TNI-Polri terus dilakukan dengan sungguh-sungguh," ujarnya.

"Saya ingin agar situasi sosial di Papua itu benar-benar bisa diatasi dan dipulihkan."

Penegakan hukum dan keamanan mesti ditegakkan  untuk melindungi masyarakat di Papua. Tentu, dalam melakukan tindakan hukum dan keamanan itu aparat tetap harus mengacu pada aturan yang berlaku.

Karena itu dia berpesan agar dalam menjalankan penindakan itu, aparat tetap memperhatikan kepatutan dan tidak melanggar HAM. Dia meyakinkan aparatnya bahwa tindakan penertiban dan penegakan hukum itu bukan pelanggaran HAM selama dilakukan sesuai kepatutannya.

"Bagi kaum sparatis bersenjata yang melakukan pelanggaran hukum dan kekerasan apalagi yang mengakibatkan korban jiwa mereka juga tidak bisa dibiarkan. Karena saya meyakini itu tidak termasuk freedom of speech, berbeda sekali yang namanya freedom of speech dari sebuah negara," tuturnya.

Teror terus menghantui rakyat di bumi Papua. Penembakan demi penembakan terjadi. Korban jiwa sudah berjatuhan.

Rangkaian penembakan terakhir di Papua terjadi Minggu malam. Korbannya bernama Tri Suruno (35), ia ditembak mati di depan Kampus Universitas Cenderawasih  Lama Abepura Papua, Minggu 10 Juni sekitar pukul 21.15 WIT. Pasca penembakan, kota Jayapura lengang bak kota mati. (eh)

 


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
hdewanggarani
13/06/2012
Presiden sudah menginstruksikan agar gerakan separatis jgn dibiarkan. Sebaiknya aparat keamanan disana, selain bertugas mengamankan, rangkul jg masyarakat dambil diberikan edukasi politik untuk mentralkan gejolak2 yg dibuat oleh gerakan separatis..
Balas   • Laporkan
pulihkan situasi Papua sekarang juga.
Balas   • Laporkan
berantas pelaku teror di Papua.
Balas   • Laporkan
situasi Papua harus dilakukan secepatnya untuk masalah saparatis ini..
Balas   • Laporkan
andesqq
12/06/2012
DENSUS 88 Kemana???...
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru