Yusril Pertanyakan Pemanggilan Hary Tanoe
Tindakan KPK yang langsung menggeledah Bhakti Investama dinilai terlalu cepat.
Hary Tanoesoedibjo dan Yusril Ihza Mahendra (VIVAnews/ Muhamad Solihin)
VIVAnews - Yusril Ihza Mahendra mempertanyakan pemanggilan pemilik PT Bhakti Investama Tbk dan Ketua Dewan Pakar Partai NasDem Hary Tanoesoedibjo dalam kasus suap pajak. Menurutnya, KPK seharusnya memanggil jajaran bawah Bhakti Investama terlebih dahulu.
"Apa nggak terlalu jauh kalau langsung dipanggil. Bhakti itu pegawainya sekitar 18 ribu orang, kan menimbulkan kehebohan," kata Yusril dalam perbincangan dengan VIVAnews.com, Sabtu 16 Juni 2012.
Hary Tanoe sedianya diperiksa KPK pada Rabu 13 Juni. Namun, saat itu Hary Tanoe mangkir dari pemanggilan. Dia beralasan belum menerima surat panggilan. Namun, Hary Tanoe pada hari itu justru menggelar konferensi pers di kantornya.
Yusril juga menyatakan, seharusnya KPK mengklarifikasi terlebih dahulu siapa James Gunardjo, tersangka suap kepada pegawai pajak, itu. Apakah James benar sebagai pegawai Bhakti Investama atau bukan.
Selain itu, lanjut Yusril, tindakan KPK yang langsung menggeledah Bhakti Investama dinilai terlalu cepat. Padahal, pengakuan keterkaitan dengan Bhakti Investama baru pengakuan dari James. "Itu kan baru pengakuan dia, itu kan masih perlu klarifikasi. Jadi kalau dalam tahap klarifikasi seperti itu apakah tindakan penggeledahan itu patut atau tidak patut," kata Yusril.
Yusril menegaskan James Gunardjo tidak pernah tercatat sebagai pegawai di Bhakti Investama. "Bhakti Investama mengingkari, mengatakan itu siapa," ujarnya.
Meski demikian, Yusril meminta agar KPK menyelesaikan kasus ini berdasarkan bukti. Bukan berdasarkan keyakinan saja. "Penegakan hukum itu kan nggak bisa pakai keyakinan, tapi harus pakai bukti. Masa penegakan hukum pakai keyakinan," ujarnya.
Sebelumnya, pengacara James, Sehat Damanik, membantah kliennya terkait dengan Bhakti Investama. Menurut Sehat, dalam pemeriksaan terakhir, James mengaku bekerja di PT Agis Mitra Mandiri. "Dia ditanya bagaimana data, terkait dia bekerja. Terakhir di Agis sebagai adviser dalam bidang perpajakan," kata Sehat Damanik di Kantor KPK, Jumat 15 Juni.
Menurut Sehat, James bekerja di PT Agis sebagai konsultan pajak terhitung mulai Januari 2012. James bergabung di perusahaan itu menggantikan posisi konsultan yang sebelumnya lowong.
"Gak ada kaitan dengan Bhakti Investama. Di sana (Agis) kan ada keluar pegawai untuk urus pajak. James masuk kesana sebagai advisor," ujar Damanik yang juga membantah kliennya mengenal pegawai dan pejabat pajak.
Presiden Direktur PT Agis Tbk, Steven Kesuma, mengakui pihaknya memang pernah berkonsultasi secara informal kepada James terkait perpajakan. Sebab, dia adalah orang yang berpengalaman di bidang pajak dibandingkan dirinya. "Kami ngajak ngobrol, kami kan kurang tahu fasilitas-fasilitas pajak, kami nanya prosedur, kami kan ingin tahu," katanya.
James tertangkap tangan saat memberikan suap kepada pegawai pajak Tommy Hindratno di sebuah rumah makan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Dari tangan mereka, KPK menemukan uang Rp280 juta.
- Info Momentum
- Misteri Persamaan Kasus Pembunuhan Mary Ashford dan Barbara Forrest
- Corpse Candle, Menguak Misteri Lilin Kematian
- Misteri Dimensi Pararel di Segitiga Bennington
- Kebetulan yang Menakjubkan dalam Kematian
- 5 Pasangan Ayah dan Anak Menjadi Presiden
- Join [Game] Team A vs Team B
- FOTO Kegiatan Harian Pesumo di Jepang



