NASIONAL

Hikmahanto Juwana

"Klaim Tor-tor Kesalahan Terbesar Malaysia"

Langkah Malaysia yang memformalkan dua kebudayaan Indonesia itu adalah kesalahan terbesar.

ddd
Senin, 18 Juni 2012, 08:50 Ismoko Widjaya, Oscar Ferri
Pesta Danau Toba 2011
Pesta Danau Toba 2011 (ANTARA/ Septianda Perdana)

VIVAnews - Pemerintah Malaysia berencana mendaftarkan tarian Tor-tor dan Paluan Gondang Sambilan dari Mandailing, Sumatera Utara, sebagai warisan kebudayaan Malaysia. Langkah Malaysia yang memformalkan dua kebudayaan Indonesia itu adalah kesalahan terbesar.

"Kesalahan terbesar pemerintah Malaysia adalah memformalkan. Ini merupakan tindakan provokatif dan agresif di bidang kebudayaan terhadap Indonesia," kata Guru Besar Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, dalam keterangan tertulis, Senin 18 Juni 2012.

Menurut Hikmahanto, tarian Tor-Tor dan Paluan Gondang Sambilan yang akan dikembangkan Malaysia sebagai satu cabang warisan negara di Malaysia harus memperhatikan sensitifitas rakyat Indonesia. Memang dua tarian itu diusulkan oleh komunitas Mandailing di Malaysia.

Masyarakat asal Mandailing yang merantau bisa saja mempraktekan budaya yang mereka miliki namun jangan sampai Malaysia sebagai negara memformalkan sebagai "milik" negara itu. Langkah itu dinilai salah besar.

"Ini berbeda dengan yang terjadi di Indonesia dimana komunitas China Indonesia memprekatekan budayanya, semisal Barongsay. Namun pemerintah Indonesia tidak memformalkan sebagai miliknya," kata dia lagi.

Sensitifitas pemerintah Malaysia diperlukan karena dalam hubungan bertetangga yang mengalami pasang surut pasti publik Indonesia akan marah. Dalam pengalaman sebelumnya, pemerintah Indonesia terkadang membutuhkan waktu untuk membendung kemarahan publik terhadap Malaysia. Sebagai akibat kepentingan Malaysia di Indonesiapun terancam.

Tindakan pemerintah Malaysiapun dinilai tidak sejalan dengan solidaritas ASEAN dan keinginan untuk membangun masyarakat ASEAN. Publik Indonesia akan menolak pembentukan masyarakat ASEAN karena kekhawatiran mereka akan menjadi pecundang diantara negara-negara ASEAN yang ada.

"Untuk itu tindakan awal agar permasalah ini tidak berkembang secara liar adalah antar Menteri Luar Negeri kedua negara melakukan komunikasi. Komunikasi untuk klarifikasi dan pernyataan bersama agar tidak ada salah pengertian," ujar Hikmahanto.

Dia berharap, pemerintah Malaysia mengurungkan upaya memformalkan tarian Tor-Tor dan Paluan Gondang Sambilan demi menjaga keutuhan hubungan antar negara dan eksistensi ASEAN. (ren)


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
adi_das
20/06/2012
Setuju dgn Pak Hikmahanto, Malaysia tlh mempermalukan dirinya sendiri sbg negara tak diplomatis dan tak sensitif/muka tembok/tak tahu malu. Jika ingin melestarikan budaya mandailing di sana yah gak perlu ngeklaim lah; Alibi utk tingkatan negara
Balas   • Laporkan
patarnapitupulu | 21/06/2012 | Laporkan
Yg namanya Batak dan Tortor itu,asalnya dari Toba dan Pulau Samosir. Orang Mandailing entah knp beraninya mengklaim Tortor sbg miliknya.Saya orang Batak asli dari Toba,bila anda ingin tahu sebenarnya apa itu Batak dan Tortor,sebaiknya anda jgn tertipu dl
stars.eagle
20/06/2012
sekalian aja coy, bahasa batak tuh dari negara malaysia.. biar makin keren..... clop deh klaimnya... malaysia keren, indonesia gaul. budaya kok jadi rebutan,,... kalo budaya melayu yang jadi rebutan ya gak masalah lah... tapi klo budaya batak.. OTB.
Balas   • Laporkan
patarnapitupulu | 21/06/2012 | Laporkan
Yg namanya Batak dan Tortor itu,asalnya dari Toba dan Pulau Samosir. Orang Mandailing entah knp beraninya mengklaim Tortor sbg miliknya.Saya orang Batak asli dari Toba,bila anda ingin tahu sebenarnya apa itu Batak dan Tortor,sebaiknya anda jgn tertipu dl
troll
18/06/2012
Pemerintah harus bersikap tegas kpd Malaysia apabila klaim ini berlanjut. Sebagai contoh, kita bisa memboikot semua produk" Malaysia yg ada d Indonesia.
Balas   • Laporkan
fransaputra
18/06/2012
Pelestarian budaya bukan hanya tugas pemerintah dan negara, tapi juga tanggung jawab semua elemen bangsa. Marilah kita melestarikan budaya kita agar tdk d klaim negara lain.
Balas   • Laporkan
madmaulana
18/06/2012
Kita harusnya jgn hanya ribut ketika budaya kita d klaim negara lain, upayakan juga mengenal dan melestarikan budaya kita yang memang sangat beragam ini.
Balas   • Laporkan
petir.halilintar.98
18/06/2012
yg salah ya pemerintah kita sendiri, yg dikerjakan cuma korupsi melulu...
Balas   • Laporkan
patarnapitupulu | 21/06/2012 | Laporkan
Yg namanya Batak dan Tortor itu,asalnya dari Toba dan Pulau Samosir. Orang Mandailing entah knp beraninya mengklaim Tortor sbg miliknya.Saya orang Batak asli dari Toba,bila anda ingin tahu sebenarnya apa itu Batak dan Tortor,sebaiknya anda jgn tertipu dl
donilesmana
18/06/2012
Masyarakat Indonesia jangan hanya ribut ketika budaya kita diklaim oleh Malaysia, ini harus menjadi peringatan agar kita terus melestarikan dan mempromosikan budaya bangsa sebagai salah satu identitas Indonesia.
Balas   • Laporkan
patarnapitupulu | 21/06/2012 | Laporkan
Yg namanya Batak dan Tortor itu,asalnya dari Toba dan Pulau Samosir. Orang Mandailing entah knp beraninya mengklaim Tortor sbg miliknya.Saya orang Batak asli dari Toba,bila anda ingin tahu sebenarnya apa itu Batak dan Tortor,sebaiknya anda jgn tertipu dl
indra_k
18/06/2012
Masyarakat Mandailing yang berada di Malaysia bisa saja mempraktekan budaya yang mereka miliki, TAPI JANGAN SEKALI-SEKALI mengklaim sebg milik Malaysia!
Balas   • Laporkan
patarnapitupulu | 21/06/2012 | Laporkan
Yg namanya Batak dan Tortor itu,asalnya dari Toba dan Pulau Samosir. Orang Mandailing entah knp beraninya mengklaim Tortor sbg miliknya.Saya orang Batak asli dari Toba,bila anda ingin tahu sebenarnya apa itu Batak dan Tortor,sebaiknya anda jgn tertipu dl
kalpin.sitepu.9
18/06/2012
Pemerintah cuma bisa berdialog dan diskusi terus, sementara malyngsia terus aja mencaplok, mulai perbatasan, budaya dll.... tindakan yg perlu bos... kalo cuma dialog dan diskusi di warung kopi aja....
Balas   • Laporkan
bayu.sagala
18/06/2012
awas kw_nya... jadi tambah panas nie...
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru