Malaysia Klaim Tor-tor
Hokky: Budaya Indonesia Harus Segera Didata
"Kami khawatir, saat kita sadar nanti, telah terlambat untuk melakukan pendataan."
Tari Tor-tor (ANTARA/ Septianda Perdana)
VIVAnews – Ilmuwan Hokky Situngkir dari Bandung Fe Institute menyatakan kebudayaan Indonesia harus segera didata dan didokumentasikan, temasuk tari tradisional. Upaya itu perlu dilakukan untuk mengantisipasi adanya klaim atas kebudayaan Indonesia di masa mendatang.
“Saya optimis ke depan Kementerian Kebudayaan akan menyadari perlunya pendataan kebudayaan, karena budaya kita yang banyak ini memang harus mulai didata,” kata Hokky kepada VIVAnews, Senin 18 Juni 2012. Namun mendata ribuan kebudayaan Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru dan pelosok nusantara memang bukan perkara mudah.
“Kami dari Indonesian Archipelago Cultural Initiatives misalnya tak mungkin mengirim ratusan tim ekspedisi ke daerah Sumatera karena biayanya sangat mahal,” ujar Hokky. Oleh karena itu, menurutnya cara terbaik untuk meneliti dan mendokumentasikan budaya Indonesia adalah dengan bekerja sama antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat.
Indonesian Archipelago Cultural Initiatives (IACI) adalah divisi budaya dalam Bandung Fe Institute. Sebelumnya tim IACI melalui penelitian kompleksitas mereka pernah membuktikan bahwa lagu ‘Rasa Sayange’ yang juga sempat diklaim Malaysia, adalah lagu asli Indonesia.
“Selama ini kami selalu berkomunikasi dengan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tapi untuk penelitian, pendataan, dan survei, kami dari dana sendiri. Kami berharap, apa yang telah kami kerjakan dan kumpulkan ini nantinya bisa digunakan oleh pemerintah,” jelas Hokky.
Ilmuwan muda itu menjelaskan, tim IACI memang cukup aktif bergerak mendata kebudayaan Indonesia. “Pemerintah tak sanggup sendirian. Atau mungkin sekarang mereka belum punya visi jelas soal ini. Kami khawatir, saat visi pemerintah nanti telah jelas, pendataan telah terlambat,” ucap Hokky.
Saat ini pun tim IACI masih terus mengumpulkan data soal tarian Indonesia. “Data tarian kami ada 300-an. Masih sangat kurang. Padahal data lagu saja kami punya 2.000-an partitur, dan data motif batik ada 5.000,” kata Hokky.
Terkait klaim Malaysia atas Tari Tor-tor, ilmuwan asli Sumatera Utara itu pun mengatakan IACI telah mengirim tim ke Tapanuli untuk mendata lebih jauh tari asal Mandailing, Tapanuli itu. Namun ia menyamput positif apabila ada masyarakat yang berinsiatif membantu dengan meng-upload video soal tari-tari Indonesia di www.budayaindonesia.org.
“Kita harus bekerja sama. Akar-akar budaya Indonesia unik sehingga kami perlu banyak data,” kata Hokky. Imbauan pendataan budaya ini pun kini diserukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang geram atas klaim Malaysia atas Tari Tor-tor.
“Perlu ada registrasi budaya yang mencatat soal budaya, sejarah, dan karakter di tingkat nasional dan provinsi,” kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemendikbud, Ibnu Hamad.
- Info Momentum
- Misteri Persamaan Kasus Pembunuhan Mary Ashford dan Barbara Forrest
- Corpse Candle, Menguak Misteri Lilin Kematian
- Misteri Dimensi Pararel di Segitiga Bennington
- Kebetulan yang Menakjubkan dalam Kematian
- 5 Pasangan Ayah dan Anak Menjadi Presiden
- Join [Game] Team A vs Team B
- FOTO Kegiatan Harian Pesumo di Jepang



