Mimpi Listrik dari Ombak di Pulau Terluar
Uji perdana penggunaan PLTGL-SB pernah dilakukan tahun 2002 di Padang.
Zamrisyaf, penemu Pembangkit Listrik Gelombang Laut (Dokumen pribadi)
VIVAnews - Dua belas tahun sudah Zamrisyaf menggarap temuannya yang diyakini mampu memenuhi kebutuhan energi nasional: Pembangkit Listrik Gelombang Laut Sistem Bandul (PLTGL-SB). Dalam waktu dekat, Zamris yang berdinas di PLN Sumatera Barat itu menyatakan teknologi temuannya akan diterapkan di sebuah pulau di Jawa Timur.
Temuannya sudah dipatenkan dengan nomor HaKI P002002008541 atas nama Zamrisyaf. Semua komponen alat ini memanfaatkan bahan-bahan dari dalam negeri. Sedikitnya, perlu dua tahap lagi untuk menjadikan temuannya diproduksi secara masal: uji fisik dan prototype.
“Saat ini kita bersama ITS Surabaya siap untuk melakukan uji fisik di Pantai Sring Kemuning, Tanjung Bumi, Bangkalan Madura,” kata Zamrisyaf pada VIVAnews, Kamis, 28 Juni 2012.
Uji perdana penggunaan PLTGL-SB pernah dilakukan pada tahun 2002 lalu di Pantai Ulak Karang, Padang, Sumatera Barat. Alat yang dibangunnya mampu menghasilkan listrik sebesar 300 watt, namun belum bisa dikatakan berhasil.
Hitung-hitungannya, potensi energi listrik per 1 meter lebar gelombang bisa menghasilkan daya rata-rata 40 kilowatt. Dengan kalkulasi tersebut, jika 20 persen dari panjang Pantai Selatan Jawa dimanfaatkan untuk PLTGL-SB, akan mampu menghasilkan daya sekitar 6.500 Mega Watt.
Meskipun sempat terganjal dana untuk membiayai penelitiannya, kini sejumlah pihak mulai melirik PLTGL-SB. Targetnya, tahun depan, PLTGL-SB mulai diluncurkan. Optimisme pegawai PLN ini kian kuat saat mendapat dukungan dari Asosiasi Energi Laut Indonesia (ASELI).
“Teknologi tersebut (PLTGL-SB) sudah masuk program pengembangan ASELI di mana ASELI menargetkan di tahun 2014 energi laut sudah bisa menghasilkan listrik 2MW—1 MW dari Arus Laut dan 1 MW dari Gelombang Laut (PLTGL-SB),” katanya.
Dalam proses penyempurnaan temuannya, ia bekerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan Politeknik Universitas Andalas, Padang. Dalam rentang waktu tiga bulan ke depan, uji fisik PLTGL-SB juga akan dilakukan di Padang.
Berlayar di Mentawai
Ide membangun PLTGL-SB muncul saat Zamrisyaf melakukan perjalanan kerja ke Sinakak, Kepulauan Mentawai pada akhir tahun 1999 untuk membangun pembangkit mikrohidro. Perjalanan ini gagal karena tak satu pun di kawasan terpencil ini bisa diberdayakan untuk membangun pembangkit listrik dengan skala kecil.
“Dari sini saya melihat kehidupan nelayan kepulauan terpencil yang sangat bermimpi akan listrik dan mereka tidak mungkin mendapatkan listrik dengan genset yang BBM-nya dari Padang.”
Berawal dari niat untuk memenuhi kebutuhan listik nelayan di pulau-pulau terluar ini, Zamris terpikir untuk membangun pembangkit yang memanfaatkan gelombang laut. “Apalagi dalam perjalanan pulang dari Mentawai, saya merasakan goncangan kapal begitu kuat, berarti energi laut ini sangat kuat,” katanya.
Diakuinya, besarnya dana yang dibutuhkan untuk melakukan sejumlah uji coba yang belum tentu berhasil, sempat menyulut rasa pesimistis untuk melanjutkan penelitian. “Sebenarnya, bagi saya tidak masalah teknologi PLTGL-SB ini tidak dilanjutkan penelitiannya kalau ada yang membantah "teori dasarnya”.”
Teknologi Diperbaiki
Sejauh ini, temuan Zamrisyaf telah mendapatkan penyempurnaan lewat kerjasama dengan Institut Teknologi Surabaya (ITS). Kerjasama ini telah mengasilkan ukuran-ukuran yang akurat untuk sebuah rancangbangun PLTGL-SB. Terutama ukuran-ukuran dimensi ponton, berat bandul, dan panjang lengan bandul serta daya dan RPM yang dihasilkan.
Pada tahap awal, potensi maksimal dari satu unit PLTGL sekitar 125 kw. Bahkan diupayakan bisa mencapai mencapai 300kw. Ini berdasarkan perhitungan, berat bandul 10 kg; panjang lengan bandul 2 meter; periode gelombang laut rata-rata 3 detik mencapai ketinggian 1,5 meter; maka daya yang dihasilkan satu set bandul sekitar 25,2kw.
“Apabila satu unit ponton terdiri dari 5 set bandul, maka daya yang dihasikan oleh satu unit ponton mencapai sekitar 125 kw,” ujarnya.
Cara kerja alat ini cukup menarik. Ponton yang berfungsi sebagai kapal mengangkut bandul terintegrasi dengan dinamo. Untuk menghasilkan putaran dinamo yang maksimal, bandul dibantu dengan alat transmisi double-freewheel dan dintegrasikan dengan bantuan rantai.
Setiap gerakan air laut akan menggoyangkan bandul sehingga menggerakkan double-freewheel untuk memutar dinamo yagn menghasilkan listrik. Pada PLTGL-SB temuan Zamrisyaf, turbin maupun bandul yang terpasang pada ponton berfungsi sebagai wadah pengapung pembangkit sehingga tidak terkena air laut.
-
Ahok: DPRD Mau Makzulkan Jokowi? Belagu Banget
-
Jokowi Rombak Besar-besaran Pejabat Eselon II DKI
-
Tanggapan Kepala Sekolah Darin Soal Dugaan Nikah Siri
-
Mahasiswi Cantik yang Bikin Edinson Cavani Cerai
-
DKI Tawarkan Investor Bangun Pedestrian Layang di Sudirman
-
Angin Kencang, Supermodel Dunia Ini Pamer Dada
- Info Momentum
- Misteri Pembunuhan Presiden Kennedy Dengan Proyek UFO Rahasia
- Kawah Patomski, Kawah Misterius Bentukan Alien di Tengah Hutan Rusia
- "The Count" Penipu Ulung Paling Lihai di Dunia
- Hasta Brata, Misteri Ilmu Kepemimpinan Jawa
- Beredar Foto Seksi Mirip Sefty Sanustika Istri Fathanah
- Misteri Suara Denting Lonceng Di Komplek Pemakaman Menteng Pulo
- FOTO: Cantiknya Rosnita Putri Wanita Teman Dekat Arya Wiguna



