Kontak Senjata di Papua, Warga Sipil Tewas
"Ayah korban adalah kepala suku yang memberikan kode isyarat."
Pasukan TNI di Papua. Situasi panas di provinsi itu mendorong TNI rutin melakukan patroli. (Antara/ Anang Budiono)
VIVAnews - Kontak senjata antara aparat TNI dengan kelompok yang diduga OPM pimpinan Lambert Pekikir terjadi tepat pada peringatan HUT Organisasi Papua Merdeka, Minggu, 1 Juli 2012, sekitar pukul 09.45 WIT. Satu orang tewas akibat insiden itu.
Peristiwa yang berlangsung di Desa Sawia Tami, Distrik Arso, Kabupaten Keerom, Papua, itu bermula ketika delapan anggota Batalyon Infantri 431 melakukan patroli rutin dengan kendaraan dinas. Saat melintas di TKP, mobil mereka dihadang dan ditempaki oleh kelompok yang diduga OPM.
"Danyon 431 beserta anggota berangkat dari Pos Wembi menuju Arso Kota. Sebelum melintas di TKP, mereka bertemu dengan Kepala Suku (Ondoafi). Kepala suku sempat memberikan isyarat (kode) kepada rombongan patrol TNI, tapi kurang dipahami. Ketika tiba di ketinggian 15 meter, patroli dihadang dengan tembakan dari kiri dan kanan mobil," ungkap seorang saksi mata yang namanya enggan disebutkan.
Anggota TNI kemudian membalas tembakan. Selang beberapa menit setelah aksi baku tembak terjadi, kelompok penyerang kemudian berhasil dipukul mundur dan masuk ke hutan.
“Ketika kelompok penyerang mundur, patroli TNI kemudian mendengar suara teriakan dari kepala suku yang tadinya memberikan isyarat. Ternyata ia berteriak karena anaknya atas nama Johanes Yanaprom ditemukan tewas tertembak 50 meter dari lokasi baku tembak," ujar sang sumber.
Panglima Kodam XVII cenderawasih, Mayor Jenderal (Mayjen) Erwin Safitri, membenarkan adanya penghadangan terhadap anggotanya. "Mobil yang ditumpangi anggota ditembaki. Kaca kiri atas bagian belakang bolong dan tembus ke kaca depan," tandasnya.
Mayjen Erwin mengklaim bahwa para pelaku penyerangan adalah kelompok separatis OPM pimpinan Lambert Pekikir.
Menurutnya, pasukannya intens menggelar patroli demi mengantisipasi rencana kelompok OPM Lambert Pekikir yang akan menuju Jayapura dan melakukan aksi. "Mereka mungkin tidak senang dengan patroli yang kami gelar, yang bertujuan menghentikan rencana mereka mengibarkan bendera bintang kejora," paparnya.
Mengenai korban tewas warga sipil, ia menduga korban mengenal pelaku penghadangan. "Ayah korban adalah kepala suku yang memberikan kode isyarat kepada anggota kami akan adanya penghadangan," ujarnya.
Juru Bicara Kepolisian Daerah Papua, Komisaris Besar Yohanes Nogroho Wicaksono, membenarkan adanya penghadangan terhadap patroli TNI di Keerom.
"Danyon 431 dihadang oleh sekelompok orang yang jumlahnya sekitar 3 sampai 5 orang. Mereka menembaki mobil yang ditumpangi anggota TNI. Akibatnya, kaca jendela depan hancur," ujarnya.
Saat dilakukan penyisiran untuk mencari para pelaku, ditemukan satu warga sipil tewas tertembak.
"Korban tewas atas nama Yohanes Yanufrom. Ia kepala Kampung Sawia Tami," jelasnya.
Saat ini, pasukan gabungan TNI dan Polri masih terus memburu para pelaku. "Kemungkinan mereka lari ke wilayah Perbatasan RI-PNG (Papua Nugini)," paparnya. (sj)
-
Belasan RS Mundur dari Program KJS Andalan Jokowi. Ada Apa?
-
Ternyata Madrid Sudah Siapkan Bus Parade Copa del Rey
-
Ahok: Ada Pengusaha Kuasai 26 Ribu Meter Lahan di Waduk Pluit
-
VIDEO: Rekaman Luthfi-Fathanah, dari Soal Daging ke Perempuan
-
Penampakan Alien Meningkat Dua Kali Lipat
-
Aksi Maudy Koesnaedi di Karpet Merah Festival Film Dunia
tinggal gmn kt maen cantik biar ostrali n usa g maen2 lg sm kita. freeport, china n LCS aja dijadikan kartu AS. mka papua g bkalan ad yg macem2.
- Info Momentum
- 40% Manusia Terinfeksi "Parasit Pengontrol Pikiran"
- Misteri Harta Karun 8 Ton Suku Maya
- Misteri Orang Sumeria dari Planet Nibiru
- Kebetulan yang Menakjubkan dalam Kematian
- FOTO: Paola Cazzola, Pembalap Wanita Cantik Pertama di Dunia
- Sum Kuning, Kasus Pemerkosaan Misterius di Indonesia
- FOTO: Kucing Bersayap dari China



