Rusia: Nasib SSJ Dibayangi Kecelakaan Maut
Calon pembeli potensial dari Indonesia ragu membeli Superjet-100.
Serpihan pesawat Sukhoi SSJ-100 yang menabrak Gunung Salak (ANTARA/Duyeh)
VIVAnews -- Meski lebih dari dua bulan berlalu, musibah kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet-100 yang menabrak Gunung Salak dalam penerbangan uji coba, Rabu 9 Mei 2012, masih lekat dalam ingatan. Juga masih mampu membuat bulu kuduk berdiri.
Kecelakaan itu juga menjadi momok bagi Rusia, yang sedang berusaha membangkitkan industri penerbangan sipilnya. Penjualan Superjet-100 -- produk perdana sekaligus andalan, terancam anjlok.
Seperti dimuat situs Rusia, Russian Today, 18 Juli 2012, calon konsumen potensial, Indonesia ragu membeli Superjet-100 paska musibah yang menewaskan 45 orang penumpang dan awak pesawat itu.
Mengutip harian Rusia, Izvestia, dikabarkan mimpi SSJ-100 untuk merajai pasar di Asia berujung ketidakpastian setelah tragedi Gunung Salak. Sejumlah perusahaan Indonesia yang berencana membeli Superjet memilih menahan diri, sementara yang lainnya tak mau berspekulasi soal kemungkinan menandatangani kontrak dengan produsen pesawat Rusia.
"Sejauh ini kami tidak punya rencana untuk membeli pesawat dari Sukhoi," kata Dian Asoka Sari, Commercial Officer Air Male kepada Izvestia.
Kebanyakan calon pembeli masih menungggu hasil penyelidikan kecelakaan pesawat. Di mana kesimpulan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga akan menentukan nasib Superjet-100.
Maskapai Indonesia yang lain, Sky Aviation yang telah menandatangani kontrak pembelian 12 unit pesawat, bisa jadi membatalkan pengadaan 9 di antaranya yang bernilai sekitar US$30 juta. Seorang sumber dari perusahaan itu mengatakan, maskapai itu menunggu hasil investigasi KNKT. Sementara, perusahaan ini belum secara resmi mengumumkan rencana untuk membatalkan pesanan.
Sejumlah maskapai lain, Airfast Indonesia, Pelita Air, Aviastar, Batavia, tak mau berkomentar soal kemungkinan membeli Superjet-100.
Sebelumnya, di hari pertama pameran dirgantara Farnborough Air Show di Inggris awal Juli kemarin, Sukhoi mengumumkan, maskapai Meksiko, Interjet berencana menambah jumlah armada yang dibeli dari perusahaan itu, hingga 20 unit.
Namun, di saat yang sama, maskapai Armenia, Armavia membatalkan satu dari dua Superjet yang terlanjur dipesan. Namun, sumber perusahaan mengatakan, keputusan itu tak ada hubungannya dengan kecelakaan maut di Indonesia, tapi dipicu masalah dana.
"Armavia mungkin khawatir terhadap keamanan atau masalah pemeliharaan pesawat. Atau hanya berpikir, tidak ada dasar untuk membayar pesawat kedua secara penuh setelah kecelakaan pesawat Sukhoi," kata Andrei Schenck dari Investcafe.
United Aircraft Corporation, pemilik Sukhoi mengakui kecelakaan menempatkan perusahananya dalam situasi sulit. Namun, tetap optimistis kondisi itu jauh dari titik kritis. "Selama dua bulan terakhir, kontrak telah ditandatangani untuk 11 pesawat", kata juru bicara perusahaan Olga Kaukova. (sj)
-
Ahok: DPRD Mau Makzulkan Jokowi? Belagu Banget
-
Jokowi Rombak Besar-besaran Pejabat Eselon II DKI
-
Tanggapan Kepala Sekolah Darin Soal Dugaan Nikah Siri
-
Mahasiswi Cantik yang Bikin Edinson Cavani Cerai
-
DKI Tawarkan Investor Bangun Pedestrian Layang di Sudirman
-
Jokowi: DPRD Mau Impeachment Saya, Silakan
- Info Momentum
- Misteri Pembunuhan Presiden Kennedy Dengan Proyek UFO Rahasia
- Kawah Patomski, Kawah Misterius Bentukan Alien di Tengah Hutan Rusia
- "The Count" Penipu Ulung Paling Lihai di Dunia
- Hasta Brata, Misteri Ilmu Kepemimpinan Jawa
- Beredar Foto Seksi Mirip Sefty Sanustika Istri Fathanah
- Misteri Suara Denting Lonceng Di Komplek Pemakaman Menteng Pulo
- FOTO: Cantiknya Rosnita Putri Wanita Teman Dekat Arya Wiguna



