NASIONAL

KNPI Desak Pemerintah RI Aktif Atasi Tragedi Rohingya

Konstitusi negara meminta RI ikut menciptakan perdamaian dunia.
Rabu, 8 Agustus 2012
Oleh : Anggi Kusumadewi
Aksi solidaritas untuk Rohingya.

VIVAnews – Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Taufan EN Rotorasiko meminta pemerintah Indonesia berperan lebih aktif dalam membantu menyelesaikan masalah terjadinya aksi-aksi kekerasan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar.

KNPI menilai campur tangan pemerintah dalam tragedi ini bukanlah bentuk intervensi terhadap negara lain, namun merupakan kewajiban Indonesia untuk turut serta menciptakan perdamaian dunia seperti yang termaktub dalam Undang Undang Dasar 1945.

Terlebih, Indonesia tahun lalu menjabat sebagai pemimpin ASEAN. Oleh karena itu, ujar Taufan, pemerintah RI harus mendorong Perserikatan Bangsa Bangsa untuk lebih memperhatikan krisis kemanusiaan yang telah memakan ratusan ribu korban jiwa ini.

“Apalagi, hingga saat ini kejadiannya tidak berhenti. Kalau kita tidak bertindak cepat dan tegas, maka saya khawatir kita terkesan tidak bertanggung jawab atas krisis kemanusiaan yang ada di sana,” kata Taufan dalam pernyataan tertulisnya, Rabu 8 Agustus 2012.

KNPI menyatakan mengapresiasi upaya pemerintah RI untuk berdialog dan memberikan tempat penampungan bagi warga Rohingya di Indonesia. Terlebih, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri sudah menyatakan akan aktif berdiplomasi untuk menyelesaikan penindasan Rohingnya.

Badan Hak Asasi Manusia PBB mengatakan setidaknya 78 warga Rohingya dilaporkan tewas sejak kerusuhan pecah pada Mei 2012. Selain itu, 1.200 orang lainnya dinyatakan hilang dan 80 ribu orang mengungsi di sekitar Kota Sittwe dan Maungdaw.

Pemerintah Myanmar menolak mengakui keberadaan etnis Rohingnya yang dianggap sebagai imigran ilegal. Jumlah warga Rohingnya yang semula 7 juta jiwa, saat ini diperkirakan hanya tersisa 800 ribu jiwa di Provinsi Rakhine, Myanmar. Setidaknya 200 ribu lebih melarikan diri dan hidup di Bangladesh. Namun, di Bangladesh, status mereka lagi-lagi tidak diakui. (eh)

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found