NASIONAL

Sebelum Dieksekusi, Terpidana Mati Harus Diisolasi

Saat ini mereka masih bisa mengendalikan peredaran narkoba di lapas.

ddd
Rabu, 28 November 2012, 17:07 Aries Setiawan, Oscar Ferri
BNN tangkap 7 napi yang mengendalikan peredaran narkoba
BNN tangkap 7 napi yang mengendalikan peredaran narkoba (ANTARA/Idhad Zakaria)

VIVAnews - Maraknya peredaran narkoba membuat Badan Narkotika Nasional (BNN) terus giat memburunya hingga ke dalam sejumlah Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan di Cilacap, Jawa Tengah.

Bahkan, BNN mencokok tujuh terpidana narkotika yang kedapatan mengendalikan peredaran narkoba dari dalam lapas. Kepala Bagian Hubungan Masyarakat, Komisaris Besar Sumirat Dwiyanto, mengatakan lima dari tujuh yang dicokok merupakan terpidana mati.

Menurut Sumirat, para terpidana mati ini tampak sudah tidak punya beban lagi dalam kehidupan masing-masing. Karena hanya tinggal menunggu dieksekusi dari balik jeruji.

"Makanya, ketika sudah menunggu dieksekusi itu, mereka mengendalikan narkoba. Karena keluarganya di luar butuh kebutuhan sehari-hari. Apalagi bisnis narkoba sangat menggiurkan dengan mendapat uang banyak," kata Sumirat ditemui di kantornya, Rabu 28 November 2012.

Berdasarkan usulan Kepala Lapas Batu, Hermawan Yulianto atau Heri, lebih baik para terpidana mati itu ditempatkan terpisah dengan narapidana narkoba lain yang ada di lapas-lapas. Mengingat potensi bahaya yang dilakukan para bandar narkoba itu.

"Lebih baik begitu. Dipisahkan. Di satu pulau yang terisolir, misalkan. Karena akan sangat mengganggu napi-napi lainnya yang sedang rehabilitasi pidananya di lapas," kata Sumirat.

Dari keterangan Kepala Lapas Batu, kata Sumirat, ada 27 narapidana yang merupakan terpidana mati. Sementara 300 lainnya bukan terpidana mati.


Bandar besar belum terungkap

Tujuh terpidana yang ditangkap BNN di Nusakambangan kemarin, yakni Sylvester Obiekwe alias Mustofa, Obina Nwajagu alias Obina, Yadi Mulyadi, Hillary K Chimize, Humprey Ejike alias Doktor alias Koko, Rudi Cahyono alias Sinyo, dan Hadi Sunarto alias Yoyok. Mereka semua merupakan pengendali narkoba yang diedarkan di luar.

Lalu, apakah ada atasan para pelaku yang sudah tertangkap itu? Menurut Sumirat, pihaknya masih terus mempelajari semua kemungkinan itu. Karena itu, ketujuh narapidana itu masih terus diperiksa guna pengembangan lebih lanjut.

"Ini yang kita lagi pelajari. Dugaan kami, di atas-atas mereka masih ada," kata dia.

Sumirat menjelaskan, saat penangkapan dilakukan, para terpidana ini selalu beralasan tidak memiliki narkoba. Apalagi kata Sumirat, BNN tidak bisa asal tangkap tanpa adanya alat bukti.

"Bukti narkobanya memang tidak ada. Tapi kita temukan bukti lain, yaitu sejumlah bukti transaksi uang dan komunikasi untuk peredaran narkoba di luar lapas yang kita temukan dalam beberapa media yang mereka miliki," jelasnya.

Namun demi keamanan, Sumirat enggan merinci detail, bagaiamana mereka bisa menjalin "hubungan" dengan para bandar dan kurir narkoba di luar lapas. Mengingat jika dipublikasi teknis "hubungan" itu akan sangat membahayakan.

"Kalau kita publikasi, bahaya nanti. Nanti mereka cari cara lain supaya tidak ketahuan," ujarnya.

Meski begitu, BNN tetap pada komitmennya dalam pemberantasan narkoba, baik di luar maupun di dalam lapas dan rutan. (ren)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
audiotherapy
29/11/2012
TINDAKAN YG SANGAT BIJAKSANA UNTUK PERLAKUAN KE PARA NAPI
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com