NASIONAL

Kerajaan Sulu Didirikan Keturunan Minangkabau?

Pendiri-pendiri kerajaan Islam di Filipina dari Minangkabau

ddd
Kamis, 7 Maret 2013, 10:56 Ita Lismawati F. Malau, Eri Naldi (Padang)
Pasukan Malaysia mengepung desa di Sabah yang dikuasai Kesultanan Sulu
Pasukan Malaysia mengepung desa di Sabah yang dikuasai Kesultanan Sulu (REUTERS/Bazuki Muhammad)

VIVAnews - Konflik bersenjata di Sabah, Negara Bagian Malaysia, kian memanas. Dipicu dengan sejarah keberadaan Kesultanan Sulu di sana, peperangan tak bisa dihindari. Menurut kantor berita di Mindanao, korban tewas dari kedua belah pihak mencapai 27 orang.

Keyakinan Kesultanan Sulu memantik ingatan soal asal-usul mereka. Dari penelusuran, ditemukan banyak informasi yang mengaitkan orang Sulu dengan Minangkabau. Salah satunya, ditulis Mochtar Naim.

Dalam disertasinya, 'Merantau: Pola Migrasi Suku Minangkabau'  tahun 1974, Mochtar Naim menemukan jejak rantau orang Minangkabau di Filipina. Mochtar Naim menyebutkan, pendiri Kota Manila adalah Raja Sulaeman dari Minangkabau. Sedangkan kerajaan Sulu di Selatan Filipina didirikan Raja Baginda, juga dari Minangkabau.

Sejarawan Universitas Andalas Profesor Gusti Asnan mendukung disertasi Mochtar Naim yang mengaitkan orang Sulu dengan Minangkabau. “Sangat masuk akal orang Sulu berasal dari Minang, tapi tidak semua orang Sulu orang Minang,” kata Gusti Asnan pada VIVANews, Rabu, 6 Maret 2013.

Klaim ini, menurut Gusti, sangat masuk akal dilihat dari pola migrasi orang Minang yang luas. Jejak Minangkabau bisa ditemukan di Sabah, Serawak, Sulu (Filipina Selatan), Kalimantan, dan Brunei. 

Bukti kedekatan orang Minang dengan kawasan ini masih bisa dijumpai hingga kini di pedalaman Kalimantan Tengah yang berbatasan langsung dengan Serawak. Fakta ini ditemukannya dari seorang peneliti asal Jepang.

Bahasa dan rumah adat digunakan sekelompok kecil orang di pedalaman Kalimantan ini sama persis dengan orang Minang. Gusti mendapatkan data ini akhir tahun lalu. Kuat dugaan, dari logat bahasa yang digunakan, sekelompok masyarakat adat ini berasal dari Kabupaten Limopuluah Kota.

Bukti luasnya penyebaran suku Minangkabau di Nusantara juga bisa dijumpai di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Komunitas ini yang sempat bertemu dengan Gusti Asnan dalam sebuah seminar mengaku telah mendiami kawasan tersebut selama tujuh generasi—sekitar 210 tahun. “Jika ini patokannya, bisa jadi migrasi terjadi saat perang Paderi terjadi.”

Hanya saja, belum ada fakta sejarah yang memastikan kapan migrasi ini terjadi. Kebiasaan berdagang dan merantau yang dilakukan orang Minang, ditengarai menjadi pintu masuk orang Minang sampai ke Filipina Selatan, termasuk ke Kesultanan Sulu.

Gusti memperkirakan, migrasi orang Minang ke Kalimantan, termasuk Sabah, terjadi pada abad XVI dan XVII. Sungai Kuantan menjadi jalur dagang yang bisa menghubungkan Dharmasraya ke kawasan Philipina Selatan yang menjadi salah satu pusat perdangan di Asia Tenggara.

Menurutnya, fakta ini perlu ditelusuri untuk mengetahui pola penyebaran orang Minang ke sejumlah penjuru. Ia berharap, kebenaran fakta ini tidak akan memancing gejolak berlebih masyarakat Minang dengan konflik yang berlangsung di Sabah, Malaysia.

Informasi terkahir, konflik Kesultanan Sulu dengan Malaysia kian memanas. Konflik yang awalnya terisolir di Lahad Datu, kini meluas hingga ke wilayah Semporna yang jaraknya terpaut 300 kilometer.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com