NASIONAL

Luthfi Hasan Ishaq Jadi Tersangka Pencucian Uang

KPK menduga, Luthfi telah menyamarkan harta benda hasil korupsi

ddd
Selasa, 26 Maret 2013, 17:32 Dedy Priatmojo, Dwifantya Aquina
Mantan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaq
Mantan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaq (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)

VIVAnews - Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq sebagai tersangka tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam kasus suap pengurusan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian.

"Tersangka LHI diduga melakukan upaya pencucian atau menyembunyikan atau menyamarkan, mengubah kepemilikan dan sebagainya," kata Juru Bicara KPK Johan Budi di kantornya, Selasa 26 Maret 2013.

Johan mengatakan, berdasarkan hasil pengembangan kasus suap pengurusan kuota impor daging, KPK sejak Senin 25 Maret 2013, resmi menetapkan Luthfi sebagai tersangka dugaan TPPU. Politisi PKS tersebut dijerat Pasal 3 atau 4 atau 5 UU No 8 tahun 2010 tentang Pencegahan TPPU jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

"Aset-aset tersangka sedang ditelusuri. Apabila ada penyitaan akan
diinfokan kembali," ujar Johan.

Kasus yang bermula dari operasi tangkap tangan ini, KPK menetapkan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaq sebagai tersangka kasus suap pengurusan kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian. KPK langsung menjemput Luthfi di kantor DPP PKS pada Rabu malam, 30 Januari 2013, dan keesokan harinya langsung ditahan di Rutan Guntur.

Selain Luthfi, KPK juga menetapkan tiga orang lainnya sebagai tersangka, 
yakniArya Abdi Effendi dan Juard Effendi, keduanya merupakan Direktur PT Indoguna Utama (IU). Serta Ahmad Fathanah, yang diduga orang dekat Luthfi.

Penyidik KPK mengamankan barang bukti berupa uang Rp1 miliar terdiri
dari pecahan Rp100 ribu, di mobil Ahmad Fathanah selepas dari
pertemuannya  dengan Arya Abdi Effendi di gedung PT Indoguna. Selain
uang Rp1 miliar, KPK juga mengamankan beberapa buku tabungan dan
sejumlah berkas dokumen.

Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi diduga melanggar Pasal 5 ayat 1
atau pasal 13 Undang-undang No 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, sebagaiamana diubah pada Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 Jo pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

Sedangkan Ahmad Fathanah dan Luthfi Hassan Ishaq diduga melanggar
pasal 12 huruf a atau b atau pasal 5 ayat 2 atau pasal 11
Undang-undang No 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, sebagaimana diubah pada Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 Jo pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP. (adi)


© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
dulkamid
27/03/2013
Eyyy, yang tau benar salah itu cuma Allah SWT. Jangan lantas orang lain ketangkap KPK disoraki, giliran orang sendiri yang digaruk KPK pada ribut dibela habis habisan. Jangan selalu nganggap diri selalu benar. Apa bedanya dengan kaum khawarij?
Balas   • Laporkan
prasetyoono
26/03/2013
ya paling tidak pencucian uang lebih keren daripada pencucian saa p ii. apalagi pencucian rani.
Balas   • Laporkan
sebastianlabesta
26/03/2013
kadung malu....kpk cari2 alasan,ntar segala jenis sabun cuci dilaporkan..rinso,soklin,byclean dll,ketimbang ga ada wkwkwk..
Balas   • Laporkan
atianwijaya
26/03/2013
Beda dengan kasus Bung Anas...? Yg ga tau ga usah ngomong...
Balas   • Laporkan
antibokis
26/03/2013
Ketangkep tangannya aja gak jelas, orang duitnya belum diterima. Lalu asset yg dibeli dari hasil korupsi itu, dari duitnya yg mana? Emang orang PKS gak mungkin punya duit dari hasil usahanya? Itulah bahanya kl ada lembaga superbody, persis Kopkamtib.
Balas   • Laporkan
erry.bayu.1 | 26/03/2013 | Laporkan
untung aja duitnya blm diterima.. tenang aja bro, kpk akan membuktikan.. sabar ya, ntar kalo ga salah kan dibebaskan..


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com