NASIONAL

Danrem 072/Pamungkas: Kami Tak Punya Senapan AK-47

AK-47 adalah senapan serbu yang digunakan penyerang Lapas Cebongan.
Kamis, 28 Maret 2013
Oleh : Anggi KusumadewiDaru Waskita (Yogyakarta)
Lapas Cebongan dijaga ketat personel TNI dan Brimob usai diserbu kelompok bersenjata misterius.

VIVAnews – Kelompok misterius penyerang Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyandang senapan laras panjang AK-47 ketika menjalankan aksinya. Dengan senapan itu, mereka mengancam petugas Lapas dan mengeksekusi empat tahanan titipan Polda DIY yang menjadi target operasi.

Belum terungkapnya siapa penyerbu Lapas Cebongan tersebut, membuat masyarakat menduga-duga dan berspekulasi soal pelaku. Komandan Resor Militer (Danrem) 072/Pamungkas Brigjen TNI Adi Wijaya mengatakan, TNI tidak menggunakan senapan serbu AK-47.

“Korem 072/Pamungkas yang memiliki wilayah tugas di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Eks Karesidenan Kedu (Jawa Tengah) tidak ada yang menggunakan senjata jenis AK-47. Jadi masyarakat jangan terkecoh oleh isu yang menyesatkan,” kata dia, Kamis 28 Maret 2013.

Adi Wijaya juga mengklarifikasi rumor soal rencana sweeping oleh pihaknya terhadap warga Nusa Tenggara Timur di Yogyakarta. Ia menjamin tidak akan ada sweeping terhadap warga NTT maupun etnis dan komunitas lainnya di manapun. “Jangan cemas, itu hanya isu belaka karena kita tidak punya agenda operasi sweeping warga NTT,” ujar Danrem.

Ia berharap masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum pasti kebenarannya ke tengah warga, karena hasilnya malah akan menyudutkan salah satu pihak dan membuat resah banyak pihak. “Jadi kalau tidak tahu benar, jangan memberikan informasi itu. Biarlah penyelidikan berjalan untuk mengungkap siapa pelakunya,” kata Danrem.

Untuk diketahui, keempat tahanan Lapas Cebongan yang tewas diberondong peluru seluruhnya berasal dari NTT. Mereka adalah Hendrik Benyamin Sahetapy Engel alias Dicky Ambon (31 tahun), Yohanes Juan Mambait alias Juan (38 tahun), Gameliel Yermianto Rohi Riwu alias Adi (29 tahun), dan Adrianus Candra Galaja alias Dedi (33 tahun).

Keempatnya menjadi tersangka kasus pengeroyokan yang menewaskan seorang prajurit TNI, anggota Detasemen Pelaksana Intelijen Kodam IV Diponegoro, Sersan Kepala Heru Santosa, di Hugo’s Café, Sleman. Mereka dikenal sebagai geng preman NTT yang amat berkuasa di Yogya dan sepanjang Jalan Solo-Yogyakarta.
   
Baca catatan hitam para korban tewas Lapas Cebongan itu di sini.

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found