NASIONAL

Analisa TKP Lapas Cebongan Tersebar, Apa Kata Polda

"Idjon Djanbi" menjelaskan secara detail motif penyerangan itu.

ddd
Minggu, 31 Maret 2013, 00:20 Hadi Suprapto, Daru Waskita (Yogyakarta)
Polisi berjaga di Lapas Cebongan
Polisi berjaga di Lapas Cebongan (ANTARA/Sigid Kurniawan)

VIVAnews - Analisa terhadap siapa yang terlibat dalam penyerbuan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, merebak di jejaring sosial Facebook. Para penyerbu mengeksekusi empat preman tahanan Polda DIY yang sebelumnya membunuh seorang prajurit Kopassus, Serka Heru Santosa.

Seorang pemilik akun Facebook dengan ID "Idjon Djanbi" menjelaskan secara mendetail insiden pengeroyokan Serka Heru dan pembunuhan Dicky Ambon cs, yang menurut dia terkait dengan masalah di seputar kartel narkoba.

Menanggapi hal itu, Humas Polda DIY AKB Anny Pudjiastuti mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh pernyataan Idjon Djanbi itu.

Saat ini polisi masih menyelidiki penyerbuan ke Lapas Kelas II B Sleman atau yang lebih dikenal dengan nama Lapas Cebongan. "Kami lakukan secara serius dan mendalam," kata Anny di Yogyakarta, Sabtu 30 Maret 2013.

Menurutnya, hasil olah TKP yang disebut-sebut tersebar ke publik itu masih merupakan pendapat dan penilaian individu, bukan laporan resmi polisi. "Itu kan opini publik, jadi kami tidak bisa membatasinya,” katanya, berkelit.

Soal ada beberapa foto tersangka yang juga dipampangkan, Any menyatakan polisi tidak pernah mengeluarkan foto maupun kronologi seperti itu. “Kami masih menunggu hasil uji balistik yang akan memberi gambaran mengenai jenis senjata serta peluru yang ditembakkan,” katanya.

Dia mengatakan polisi juga sedang mendalami hasil penyelidikan, olah TKP, serta visum. "Karena itu kami harap masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing," katanya.

Kepala Lapas Cebongan Sukamto juga mengaku tak tahu-menahu soal beredarnya kronologi itu. “Saya tidak tahu tentang itu,”katanya, Sabtu. Sukamto mengatakan agar semua pihak menyerahkan kasus ini ke polisi.

Siapa Idjon Djanbi?

Nama "Idjon Djanbi" mengingatkan kita pada salah seorang perintis pembentukan pasukan elite TNI Angkatan Darat yang kini bernama Kopassus. Mochammad Idjon Djanbi lahir di Kanada sekitar 1915 dengan nama Rokus Bernardus Visser. Sebelum masuk dinas militer Belanda, dia sempat menjadi sopir Ratu Wilhelmina.

Ia sempat diterjunkan ke pertempuran di Eropa dalam Operasi Market Garden pada September 1944. Saat itu pasukannya dimasukkan dalam Divisi Lintas Udara 82 Amerika Serikat.

Sebelum dikirim ke Hindia Belanda, Visser sempat mengikuti latihan di Sekolah Para di India. Dia kemudian membentuk kesatuan unit khusus di India dengan mendirikan School voor Opleiding van Paraschutisten. Pada tahun 1946 dia dikirim ke Jakarta.

Visser kemudian memilih menetap di Indonesia dan menikah dengan seorang perempuan asli Bandung. Dia lalu berganti nama menjadi Mochammad Idjon Djanbi sampai akhirnya diminta Kolonel AE Kawilarang untuk membentuk pasukan komando.

Ia lalu diaktifkan di TNI dengan pangkat Mayor dan kemudian melatih sejumlah prajurit sebagai pasukan komando. Pada 16 April 1952, pasukan komando itu terbentuk dengan nama Komando Teritorium Tentara III/Siliwangi dan Idjon Djanbi menjadi komandan pertamanya.

Ketika pasukan itu diresmikan oleh Wapres Moh. Hatta menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) pada 25 Juli 1955, yang ditunjuk sebagai komandannya tetaplah Mayor Inf. Idjon Djanbi. Pada ulang tahun RPKAD tahun 1969, Visser alias Idjon diberi kenaikan pangkat menjadi Letnan Kolonel. (eh)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
husst
05/04/2013
Yak... Betul smua. Betul-betul FITNAH !!!
Balas   • Laporkan
nirwana15
01/04/2013
Sederhana saja apa bener penjaranya lagi direnovasi? mana buktinya itu aja dulu siapa yg ngerjain? jadi ingat kasus Novel basweden yg buktinya mendadak nongol tampa sebab
Balas   • Laporkan
bumidanlangit
31/03/2013
kerja aparat yg berwenang dlm urusan ini kelamaan, jd idjon duluan deh
Balas   • Laporkan
supercenang
31/03/2013
udah jelas2 ORMAS-nya sarang preman ko di PIARA...BUBARKAN!!!...BODOOHHHH aparat-nya
Balas   • Laporkan
feyfey
31/03/2013
Jadikan jogya tempat yang bersahaja, semua orang bisa membuat analisa, akan tetapi akan lebih baik,jika analisa apapun tidak akan menjadi publik menjadi memiliki kesan negative. Terkait NArkoba, tuga kita semua aktif untuk meberantas,
Balas   • Laporkan
isroi
31/03/2013
Setuju bersihkan preman2 yang meresahkan masyarakat jogja. Jaga ketentraman jogja dengan membersihkan preman2, dan preman pendatang yang membuat jogja tidak aman. Sesuai titah sultan; kalau mau buat rusuh, keluar dari jogja..
Balas   • Laporkan
erni_ayu
31/03/2013
POlisi mirip Srimulat, Ketoprak humor. KOmnas HAM, Kontras Y AHUDI made in israel
Balas   • Laporkan
smenday
31/03/2013
Soal Rekayasa dan mem Blow Up Kasus di Media Massa memang Polisi Ahlinya, tapi kalau sdh jelaz2 membentur Tembok spt ini mau menghindar kemana lagi. Terlepas dr itu semua, BNN coba itu berantas Biangnya Bandar Narkoba di dlm Polisi dulu.
Balas   • Laporkan
zuhar
31/03/2013
Dari Yogyakarta kami menghimbau POLDA YOGYAKARTA dan KODAM DIPONEGORO segera menonaktifkan ormas2 yg ada di Yogya yg disinyalir tempat berteduhnya Preman2 dan dari Yogya mari aparat keamanan gebuk dan basmi preman2 yg ada di yogya, Jangan Takut HAM
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com