NASIONAL

Mantan Dan Puspom: Kopassus Kalau Nembak 1 Nyawa 1 Peluru

Serangan Lapas Cebongan dinilai bukan ciri khas Kopassus.

ddd
Senin, 1 April 2013, 18:20 Umi Kalsum, Rohimat Nurbaya
Jenazah Yohanes Juan Manbait saat hendak dipulangkan ke NTT
Jenazah Yohanes Juan Manbait saat hendak dipulangkan ke NTT (ANTARA/Noveradika)
VIVAnews - Ada pernyataan menarik dari mantan Komandan Pusat Polisi Militer Mayor Jenderal (Purn) Syamsu Djalal soal penyerangan bersenjata yang menewaskan empat tahanan titipan Polda Daerah Istimewa Yogyakarta di Lapas Cebongan, Sleman, 23 Maret 2013 lalu.

Empat tahanan itu adalah Hendrik Benyamin Sahetapy Engel alias Dicky Ambon (31 tahun), Yohanes Juan Mambait alias Juan (38 tahun), Gameliel Yermianto Rohi Riwu alias Adi (29 tahun), dan Adrianus Candra Galaja alias Dedi (33 tahun). Keempatnya tersangka penganiaya dan pembunuh Serka Heru Santoso di Hugo's Cafe.

Menurut Syamsu, meski taktis, sistematis, dan dilakukan orang-orang yang sangat terlatih, serangan di Lapas tersebut bukan ciri khas Kopassus. Tentara elit TNI Angkatan Darat itu tidak pernah menyerang dengan memberondongkan peluru.

"Kopassus itu intinya satu nyawa, satu peluru. Kalau bunuh orang tidak pakai 10 peluru (memberondong) dan senjatanya bukan senjata serbu seperti itu (AK-47)," ujarnya dalam jumpa pers di Phoenam Cafe, Jakarta, Senin 1 April 2013.

Syamsu dan dua purnawirawan jenderal lainnya, Mayjen TNI (Purn) Murwanto dan Laksamana Pertama (Purn) Mulya Wibisono, mengaku tergerak menyampaikan pendapat karena banyak opini publik tentang penyerangan oleh pasukan tidak dikenal yang merujuk ke institusi tertentu di TNI.

Sebagai mantan Dan Puspom, ia tahu betul bahwa penggunaan senjata tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. "Harus ada izin surat senjata api," katanya.

Dan ia yakin Kopassus tidak akan sembarangan. Kepiawaian Kopassus, kata Syamsu, sudah diakui dunia internasional. Dan, bukan ciri khas pasukan baret merah menembak targetnya dari belakang. Syamsu menduga kasus ini terkait gembong narkoba yang ingin mencemarkan nama baik TNI dan Polri. "Sebaiknya kita tunggu hasil investigasi tim yang sudah dibentuk," kata Syamsu.


© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
tantokw
02/04/2013
TEORINYA BISA BEGITU PAK...SATU PELURU SATU NYAWA...TAPI YANG NAMANYA ORANG KALAP,MENAHAN DENDAM KESUMAT,EMOSI TINGGI...JADI PELAMPIASANNYA DENGAN MEMBERONDONGKAN BANYAK PELURU...DGN HARAPAN DENDAM HATINYA DIPUASKAN...JD TEORI SYAMSU JALAL TIDAK AKURAT...
Balas   • Laporkan
sutantantina
01/04/2013
Tertibkan anggota TNI dan Polri yang kerja sampingan manjadi keamanan tidak resmi di tempat-tempat hiburan
Balas   • Laporkan
opi_jkt
01/04/2013
1 nyawa 1 peluru...klo kena.
Balas   • Laporkan
cix.ivo
01/04/2013
"3. Investigasi siapa oknum2 Polri atau TNI yg sering nongkrong cafe" anggota kopasus yang tewas saat itu bukan santai" di cafe, tapi sedang bertugas, untuk menjaga keamanan dari preman".
Balas   • Laporkan
zuhar
01/04/2013
Untuk menguak kasus tsb 1. pemilik cafe dan pegawai2 di tangkap jangan dilepas sblum terungkap. 2. Investigasi dr keamanan HUGO's preman2 yg ada disitu pasti tahu, 3. Investigasi siapa oknum2 Polri atau TNI yg sering nongkrong cafe, 4. hiupkan petrus 1982
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com