NASIONAL

Arief Hidayat: Saya Tak Cari Uang di MK, Warisan Sudah Banyak

Ia menggantikan Mahfud MD sebagai hakim konstitusi.
Senin, 1 April 2013
Oleh : Ita Lismawati F. Malau, Nur Eka Sukmawati
Hakim Konstitusi Arief Hidayat

VIVAnews - Arief Hidayat resmi menyandang jabatan sebagai hakim konstitusi. Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi, Achmad Sodiki, menyematkan toga hakim konstitusi kepada Arief dalam acara Pisah Sambut Mahfud MD - Arief Hidayat di gedung MK, Jakarta, Senin, 1 April 2013.

Dalam sambutannya, Arief mengaku tidak pernah bermimpi menjadi hakim konstitusi dan diambil sumpahnya di Istana Negara. "Tadi malam saya tidak bisa tidur karena akan disumpah di Istana," kata dia berkelakar.

Arief mengaku dulu hanya bercita-cita menjadi guru besar karena itu jabatan tertinggi dosen. "Kalau jabatan struktural itu semua sudah saya lakukan, sehingga sebetulnya saya sudah tidak punya harapan untuk menjabat apa-apa karena saya sudah paripurna," kata Arief.

Arief menceritakan, lima tahun lalu mantan Ketua MK, Jimly Asshiddiqie, pernah mendorongnya untuk maju sebagai hakim konstitusi. Namun, saat itu dia masih memegang jabatan sebagai dekan. "Setelah selesai jadi dekan, saya memberanikan diri mendaftar sebagai hakim MK melalui jalur DPR," ungkap dia.

Arief mengaku sangat terhormat terpilih menjadi hakim MK menggantikan Mahfud MD. Di mata Arief, Mahfud merupakan sosok hakim yang luar biasa.

"Pisah sambut ini bukan hanya dengan seorang hakim, tetapi dengan seorang Ketua. Itu yang luar biasa, sehingga berita saya mendunia karena saya menggantikan Pak Mahfud seorang hakim yang luar biasa," ujar dia.

Bagi Arief, MK bukannya lembaga asing untuk dirinya. Dia menilai, MK sebagai lembaga yang berintegritas, mempunyai independensi, dan lembaga yang bergengsi di Indonesia.

"Saya sudah ikut berkiprah di sini walau hanya peran kecil, itu yang mendorong saya bergabung di sini," kata bapak dua anak ini.

Warisan

Sambil bercanda, Arief mengaku sudah mempunyai warisan yang melimpah sari Sang Mertua, sehingga tidak ada faktor internal dan eksternal yang dapat melunturkan independesinya sebagai seorang hakim.

"Ibu mertua saya ini warisannya banyak sekali. Saya itu jadi dosen tidak kesulitan apapun, sehingga saya waktu sekolah S2, S3, dan bekerja tidak pernah mencari uang banyak-banyak karena ibu sudah memberi saya warisan yang luar biasa," ujarnya sambil tertawa.
 
Di lima tahun masa jabatannya, Arief memohon dukungan dan bimbingan dari delapan hakim konstitusi lainnya karena ia belum pernah sekalipun menjabat sebagai seorang hakim.

"Saya harus banyak belajar dari bapak ibu hakim karena saya orang baru. Saya belum pernah jadi hakim di tingkat apapun, jadi saya nanti mohon bimbingan dan arahannya untuk belajar menjadi hakim yang bisa menjaga reputasi MK."

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found