NASIONAL

Permainan Impor Daging Marak, Ini Penyebabnya

Staf Perizinan PT Indoguna, ungkap penyebabnya di pengadilan Tipikor.
Rabu, 1 Mei 2013
Oleh : Aries Setiawan, Dwifantya Aquina
Pedagang daging sapi jajakan dagangannya

VIVAnews - Staf Perizinan PT Indoguna Utama, Priyoto, mengungkap penyebab banyaknya perusahaan yang bermain curang dalam pengadaan impor daging sapi.

Menurutnya, pemerintah setiap tahunnya membatasi perizinan perusahaan, sedangkan jumlah permintaan meningkat.

Hal itu diungkap dalam sidang pemeriksaan saksi atas dua terdakwa bos PT Indoguna Utama Arya Abdi Effendi dan Juard Effendi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu 1 Mei 2013.

Saat diminta kuasa hukum terdakwa untuk menjelaskan, Priyoto menuturkan, volume kuota impor daging sapi tiap tahunnya menurun.

Pada tahun 2010 kuota impor sebesar 120 ribu ton, dengan importir sebanyak 20. Namun, katanya, yang benar-benar bisa memenuhi permintaan kuota hanya 7-8 perusahaan. Tahun 2011 kuota turun jadi 100 ribu ton. Kemudian pada 2012 sebanyak 34 ribu ton, dengan 50 importir.

Untuk tahun 2013, kata Priyoto, kuota impor daging sapi yang ditetapkan pemerintah adalah sebesar 32 ribu ton. Jumlah tersebut di alokasi ke dua kelompok besar, yakni industri dan horeka (hotel, restoran dan katering).

"Suplai sedikit, permintaan banyak, sehingga harga daging tinggi. Lalu muncul importir-importir kecil. Pada 2013 ada 68 perusahaan yang dapat alokasi izin impor," kata Priyoto.

PT Indoguna mengimpor daging pada kelompok horeka yang memiliki kuota sebesar 12.600 ton. Indoguna bersaing dengan 67 perusahaan lainnya.

Menurutnya, PT Indoguna Utama mendapat kuota sebesar 452 ton, dan masing-masing anak perusahaannya mendapat kuota sebesar 200-an ton. Total kuota yang ditangani grup Indoguna sekitar 1.100 ton.

Penambahan kuota, lanjutnya, diputuskan oleh empat kementerian, yakni Kemenko Perekonomian, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian. Jumlahnya diperoleh dari analisa daging nasional.

"Izin terbatas, permintaan banyak. Kalau tidak sanggup sendiri, biasanya importir jual ke perusahaan lain, karena tiap tahun jumlahnya makin ketat. Mulai 2012 mulai susah kuota. Siapa yang jual saya tidak bisa tebak," tuturnya.

Dia menuturkan, sebagai importir besar, PT Indoguna sejak tahun 2012 menjalin kerja sama dengan asosiasi daging. Harga daging sudah dipatok, dalam upaya menurunkan harga.

Dia pun mengungkapkan pernah mendapat laporan banyak stok daging impor menumpuk di Pelabuhan Tanjung Priok.

"Mereka (importir) mencoba 'bermain' karena kuota kekurangan," ujarnya. Tumpukan daging itulah yang kemudian menyebabkan daging sapi menjadi langka.

Saat Ketua Majelis Hakim Prawono Edi menanyakan siapa importir yang bermain tersebut, saksi mengaku tak tahu.

"Saudara saksi jangan mengada-ada," kata hakim.

"Tidak yang mulia, saya dapat laporan soal hal ini dari staf di lapangan," jawabnya.

Kasus suap impor daging ini bermula dari operasi tangkap tangan di sebuah hotel di Jakarta. Saat itu penyidik menangkap tiga orang saat sedang menyerahkan uang suap senilai Rp1 miliar. Ketiga orang itu yakni, Arya Abdi Effendi, Juard Effendi dan Ahmad Fathanah. Sementara satu orang lainnya, Luthfi Hasan Ishaq ditangkap di kantor DPP PKS.

KPK menyatakan, keberhasilan operasi ini merupakan hasil penyelidikan dan laporan masyarakat. Bahkan KPK diketahui memiliki rekaman percakapan pihak-pihak dalam kasus suap impor daging. (eh)

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found