NASIONAL

Perpustakaan IAIN Imam Bonjol Siap Tampung Buku Tan Malaka

Asalkan, ada sumbangan buku utama terlebih dulu.
Kamis, 5 September 2013
Oleh : Arfi Bambani Amri
Peneliti UI teliti gigi dari kuburan yang diduga Tan Malaka di Kediri

VIVAnews - Perpustakaan Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol, Padang, membantah menolak sumbangan buku terkait tokoh Ibrahim Datuk Tan Malaka dari seorang mahasiswa bernama Adil Wandi.

Menurut petugas Perpustakaan IAIN itu, Nasrul Makdis, dia tidak menolak buku tersebut, hanya meminta Adil Wandi menyumbangkan dulu buku yang lebih tepat dengan fakultas tersebut.

"Saya tidak pernah mengatakan Buku Tan Malaka ditolak di Perpustakaan," kata Nasrul saat menghubungi VIVAnews, Kamis, 5 September 2013. "Buku itu bisa diterima sebagai sumbangan tambahan setelah sumbangan utama diberikan dulu," kata Nasrul.

Nasrul menceritakan, setiap mahasiswa yang akan lulus di IAIN Imam Bonjol memang diwajibkan menyumbang buku, minimal satu eksemplar. Buku ini harus berkaitan dengan silabus per mata kuliahan di institut ini.

Nasrul mengakui, Adil Wandi, mahasiswa yang skripsinya berkaitan dengan filsafat politik Tan Malaka itu, kali pertama memang ingin menyumbangkan buku mengenai Tan Malaka yang berjudul "Apa dan Bagaimana Tan Malaka". Saat itu, Nasrul menjawab, buku sumbangan harus berkaitan dengan silabus.

Keesokan harinya, Adil Wandi kembali menemui Nasrul, lagi-lagi melampirkan buku yang sama. "Namun saya tidak ada mengatakan saya tolak," kata Nasrul. "Saya mengatakan harus ada buku utama."

Kini Nasrul menyilakan Adil Wandi menyerahkan buku sumbangan utama yang berkaitan dengan kuliahnya. "Buku Tan Malaka itu bisa sebagai sumbangan tambahan," kata Nasrul. "Saya siap menerimanya," kata Nasrul.

Senin lalu, Adil Wandi, calon sarjana Akidah Filsafat, menyatakan buku sumbangannya itu ditolak oleh petugas pustaka di Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol. "Wajar (saya memberi buku itu). Sulit mencari buku Tan Malaka di kampus ini," kata Adil Wandi yang kepada VIVAnews, Senin 2 September 2013.

Adil Wandi menyebutkan, ia sudah dua kali mendatangi fakultas untuk memberikan buku tersebut sebagai syarat wisuda. Namun, petugas menolak dengan alasan tidak adanya mata kuliah Tan Malaka di Fakultas Ushuluddin. "Petugas tidak mau menerima karena buku Tan Malaka tidak masuk dalam silabus," kata Adil Wandi.

Tan Malaka memang sosok kontroversial. Meski ikut membesarkan Partai Komunis Indonesia di awal abad 20, kemudian hari berbeda pendapat dengan Komunis Internasional mengenai Pan-Islamisme, yang menurut Tan Malaka harus dijadikan sekutu dalam perjuangan melawan penjajahan. Tan Malaka kemudian mendirikan Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba).

Pria kelahiran Situjuh, 50 Koto, Sumatera Barat, ini tewas ditembak setelah dituduh hendak menggulingkan pemerintahan Soekarno-Hatta meski kemudian Soekarno merehabilitasinya dengan memberinya anugerah Pahlawan Nasional. Kuburannya diduga berlokasi di Selopanggung, Kediri, Jawa Timur.

Tan Malaka dikenal sebagai pejuang-intelektual. Di masa pelariannya dari kejaran pemerintahan kolonial Belanda, Tan Malaka menulis sejumlah buku termasuk salah satu buku yang dianggap sebagai konsepsi awal Republik Indonesia, Naar de Republiek. (umi)

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found