NASIONAL

Kasus Penembakan Nabire Versi Polisi

Kata pejabat Polri, saat kejadian anggotanya dikeroyok. "Polisi kan boleh melumpuhkan."
Jum'at, 26 Juni 2009
Oleh : Elin Yunita Kristanti, Aries Setiawan
Papua

VIVAnews - Suasana Kota Nabire, Papua pada Kamis 25 Juni 2009 mencekam, buntut dari peristiwa tewasnya salah satu warga bernama Melkianus Agapa yang tertembak oleh anggota Kepolisian Nabire. Warga yang marah mengarak jasad Melkianus ke Markas Kepolisian Nabire dan meletakannya di tengah lapangan Polres.

Menurut Wakil Kepala Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Sulistyo Ishak, kejadian bermula Kamis sekitar pukul 14.00. Saat itu ada laporan penganiayaan oleh masyarakat. Mendengar itu empat petugas langsung mendatangi lokasi untuk melerai.

"Pada saat melerai justru anggota kita dikeroyok, dilempari batu, bahkan dengan senjata tajam. Karena tak bisa menghindar, anggota melakukan tindakan peringatan, ada yang kena dan meninggal," kata Sulistyo di Markas Besar Kepolisian, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Jumat 26 Juni 2009.

Menurut Sulistyo, apa yang dilakukan anggota polisi sesuai protap. Sebab, massa yang brutal menyerang Brigadir Satu Samad hingga mengalami robek di bagian bibir dan dagu. "Peluru tajam mengenai paha pelaku. Polisi kan boleh melumpuhkan," tambah dia.

Setelah itu, kata Sulistyo, polisi tak tinggal diam dan langsung melarikan korban ke pos komando. "Jam 16.00 pelaku meninggal," tambah dia.

Meski menganggap apa yang dilakukan anggota polisi sesuai protap, menurut Sulistyo pihaknya tetap melakukan proses hukum pada para anggota.

Penembakan pada warga sipil oleh aparat sebelumnya juga terjadi di Papua. Seorang warga Keerom, Papua, Isak Pesakot (13) tertembak di pos perbatasan RI-Papua Nugini, Senin 22 Juni lalu.

Menurut TNI, peristiwa penembakan berawal saat enam anggota Pos Satgas 725/WRG melakukan patroli kearah Kilometer 500 (Perkampungan). Lalu bertemu dengan lima warga masyarakat yang salah seorang diantaranya diduga membawa senjata.

Melihat anggota TNI berpatroli, warga tersebut melarikan diri, lalu diberikan tembakan peringatan sebanyak tiga kali, namun sama sekali tidak diindahkan. Kemudian anggota yang berpatroli menembak mereka.

Buntut dari insiden tersebut, Komandan Pomdam 17 Cenderawasih, Kolonel CPM Muhamad Gulton mengatakan, pihaknya saat ini memeriksa 6 anggota  Satgas 725/WRG yang bertugas di Pos TNI Bewani Perbatasan RI-PNG.

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found